DPRD Kota Semarang Dorong Warga Mulai Pilah Sampah dari Rumah Tangga

SEMARANG[Berlianmedia] – Kota Semarang setiap harinya menghasilkan lebih dari 1.200 ton sampah, sebagian besar masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang tanpa pemilahan yang optimal. Kondisi ini membuat pengelolaan sampah menjadi salah satu persoalan serius yang harus segera ditangani.

Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman SE MM, menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah ada pada kesadaran masyarakat. Ia mendorong warga untuk mulai memilah sampah dari rumah tangga sebagai langkah paling sederhana namun berdampak besar.

“Kalau masyarakat terbiasa memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah, sistem penanganan di tingkat kota akan lebih teratur. Perubahan perilaku harus dimulai dari lingkungan terkecil,” ujar Kadarlusman dalam dialog Prime Topic bertema Pengelolaan Sampah yang Terintegrasi di Lobby Quest Hotel Semarang, Rabu (1/10).

Baca Juga:  DLH Bersama Marimas Gelar Pelatihan Ecobricks 2024 Gratis

Menurutnya, partisipasi warga tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah juga wajib menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, sekaligus gencar melakukan sosialisasi agar pola hidup bersih bisa menjadi budaya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Arwita Mawarti SH MT, mengungkapkan bahwa kebijakan pilah sampah dari Pemkot masih belum menyentuh keseluruhan masyarakat. “Faktanya, sampah masih terus menggunung. Padahal, 60–70 persen sampah rumah tangga berupa organik yang bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.

Arwita menambahkan, kontribusi masyarakat dalam retribusi sampah baru sekitar 40 persen yang tertagih melalui PDAM. “Sisanya belum optimal, bahkan penempatan kontainer di beberapa titik masih kerap ditolak warga,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Prof Syafrudin, menilai persoalan sampah bukan hanya teknis, tetapi juga perilaku. “Kalau masyarakat dilarang membuang sampah sembarangan, maka pemerintah harus menyediakan tempat pengolahan yang memadai. Hidup kita akan jauh lebih murah jika bisa mengolah sampah, karena beban lingkungan akan lebih ringan,” jelasnya.

Baca Juga:  Truk Muat Susu Terguling di Fly Over Kalibanteng Sebabkan Kemacetan Panjang Hingga Sore

Dialog ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi. Pemerintah diminta memperkuat regulasi dan sarana, sementara masyarakat didorong membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga agar Semarang lebih bersih dan berkelanjutan.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!