Sang Pengkritik Itu Telah Tiada: Jejak Para Kader Sejati Muhammadiyah Kota Semarang
SEMARANG[Berlianmedia] – Dalam sejarah panjang Muhammadiyah Kota Semarang yang telah mengakar sejak 1926, Sabtu, 28 Juni 2025, tercatat sebagai hari duka mendalam. Dua tokoh besar Persyarikatan, Drs. H. Parlin, M.Ag., dan H. Jupri Yaman Nur, berpulang ke rahmatullah. Kehilangan ini bukan hanya duka keluarga, tetapi juga duka bagi warga Muhammadiyah dan umat yang selama ini mereka layani.
Keduanya adalah sosok kader sejati Muhammadiyah, hasil dari proses kaderisasi yang kokoh. Parlin dikenal sebagai pengkritik berani, sementara Jupri adalah pendidik tak kenal lelah. Perjalanan hidup mereka menjadi bukti nyata dedikasi kepada dakwah dan pendidikan yang menginspirasi kader-kader muda untuk melanjutkan estafet perjuangan.

Muhammadiyah Semarang, seperti halnya di daerah lain, dibangun melalui semangat kaderisasi yang sistematis. Organisasi otonom seperti IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Hizbul Wathan menjadi wadah pembibitan kader unggul. Namun, di tengah semangat keterbukaan, tantangan kaderisasi juga muncul, seperti fenomena kader karbitan yang dapat memengaruhi legitimasi proses yang sudah mapan.
Kiprah Tak Terlupakan
Drs. H. Parlin, M.Ag., seorang tokoh yang dikenal kritis dan berintegritas, mengabdikan hidupnya untuk membangun pendidikan Muhammadiyah. Peranannya di Majelis Dikdasmen PWM Jawa Tengah dan PDM Kota Semarang menjadi tonggak dalam pengembangan lembaga pendidikan. Dalam sakit pun, Parlin tetap menjadi mentor bagi kader muda, menunjukkan keteladanan sejati seorang pejuang dakwah.
H. Jupri Yaman Nur, di sisi lain, adalah simbol pengabdian tanpa lelah di dunia pendidikan. Dari Taman Siswa ke sekolah Muhammadiyah, kontribusinya mencakup berbagai lini, mulai dari manajemen sekolah hingga kebijakan pendidikan. Semangatnya terus menyala meski dalam keterbatasan kesehatan.
Warisan dan Tantangan
Kepergian mereka meninggalkan warisan besar dan pertanyaan penting bagi Muhammadiyah Kota Semarang: bagaimana menjaga dan memperkuat proses kaderisasi di masa mendatang? Beberapa tantangan yang harus dihadapi adalah:
- Membangun sistem kaderisasi berjenjang yang terintegrasi.
- Mempertahankan nilai-nilai keikhlasan dan militansi dalam kaderisasi.
- Membudayakan kritik sehat dan dialog terbuka.
- Menegakkan standar kepemimpinan berbasis pengkaderan.
- Menguatkan pelatihan dan mentoring untuk kader muda.
Pengajian Takziah
Sebagai penghormatan terakhir, pengajian selama tiga hari akan digelar di rumah duka:
- Drs. H. Parlin, M.Ag.
Ahad, 29 Juni: Drs. KH. Musman Tholib, M.Ag.
Senin, 30 Juni: Drs. KH. Danusiri, M.Ag.
Selasa, 1 Juli: Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd. - H. Jupri Yaman Nur
Ahad, 29 Juni: Drs. H. Danusiri, M.Ag.
Senin, 30 Juni: Dr. H. AM. Jumai, S.E., M.M.
Selasa, 1 Juli: Drs. H. Abdullah Muhajir.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah keduanya, menempatkan mereka di tempat terbaik, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk melanjutkan perjuangan dakwah.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sang pengkritik itu telah tiada, tetapi jejak perjuangannya akan terus menjadi inspirasi bagi Muhammadiyah.”


