1000 Peserta Deklarasikan Dukungan untuk Jaguar di Malam Tirakatan Hari Wayang Nasional, Ini Kisah yang Diangkat
SEÄMARANG [Berlianmedia]– Tim Pemenangan Jaguar (Jagoanku Agustina dan Iswar) menggelar malam tirakatan dalam rangka peringatan Hari Wayang Nasional yang dielar di posko pemenangan Jalan Prof Dr Cipto Semarang, Kamis malam (7/11/2024).
Dalam pagelaran wayangan yang dihadiri sekitar 1000 peserta ini memantapkan dukungan warga Kota Semarang kepada Agustina dan Iswar dari berbagai kalangan.
Gelaran ini dihadiri oleh para relawan, penggurus partai dan anggota DPRD Kota Semarang, serta masyarakat dari berbagai latar belakang dan profesi.
Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Danuhitno Carito Gondobuono selaku dalang yang memimpin pagelaran mengatakan bahwa malam tirakatan Jaguar ini juga ditujukan untuk mendukung Andika Hendi yang bertarung di Pemilihan Gubernur Jawa Tengah.
Dalang yang akrab disapa Danu ini menjelaskan bahwa acara ini penuh doa untuk bangsa dan ideologi pancasila serta untuk ketentraman bangsa dan negara.
Jaguar berdoa agar bisa jadi pemimpin yang amanah dan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Kami memohon dukungan tentunya dari masyarakat. Kami juga meminta dukungan untuk Andika Perkasa,”ujar Danu saat diwawancara.
Tema wayangan ini adalah “Manunggaling Mustikaning Jagat’’ yang melambangkan bahwa Mustikaning Jagat di Indonesia adalah Pancasila yang harus tertanam di dalam jiwa kepimpimpnan bangsa serta perilaku masyarakat dari pusat hingga daerah.
“Maka dalam cerita wayang ini, Jamus Kalimasada itu akan dicuri oleh Adipati Kano, tapi ketahuan. Setelah itu direbut oleh Sentiaki, Sentiaki kalah. Disabet dengan Mustika itu kemudian menjadi Handoko Sakti, itu Banteng,” tutur Danu.
Sentiaki yang dibantu oleh Werkudara, Werkudara juga ikut kalah. Disabet Mustika itu jadi Pohon Beringin.
Setelah itu, Nakula dan Sadewa yang ikut membantu juga kalah setelah disabet oleh Mustika itu. Lalu mereka menjadi rantai dan kapas padi.
Lalu terakhir ada Semar yang ikut membantu, dia menjadi perisai. Lalu datang pula Janaka yang menjadi Burung Garuda.
“Itulah lambang kenegaraan kita,”tandas Danu.
Danu melanjutkan, dalam kisah tersebut datanglah seorang ibu bernama Dewi Kunthi. Seorang tokoh ibu yang mendirikan negara dengan membawa prinsip sila pertama, Ketuahanan yang Maha Esa.
“Karena tuhan itu maha kasih, maka akan terimplementasikan menajdi sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” tuturnya.
Danu melanjutkan, setelah manusia adil dan beradab, maka akan lahir sila ketiga, Persatuan (Indonesia) tanpa memandang suku, ras, dan agama.
Kemudian setelah bersatu, terimplementasi lagi menajdi sila keempat, yaitu manusia yang senang bermusyawarah serta mampu memimpin dan dipimpin.
Setelahnya lahirlah sila kelima, kita menjadi manusia yang hidup di sebuah bangsa yang adil dan beradab.
“Itulah intinya cerita ini,” jelasnya.


