Persik Kediri Ujian Mental di Gresik: Mencari Tuah di Tengah “Ketidakadilan”
KEDIRI[Berlianmedia] – Persik Kediri kembali harus menelan kenyataan pahit: status tuan rumah yang tak benar-benar “di rumah sendiri”. Laga kontra Persebaya Surabaya, Jumat (7/11) mulai pukul 19.00 WIB di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, menjadi ujian berat bagi tim berjuluk Macan Putih bukan hanya soal taktik, tapi juga mental bertanding di tengah situasi yang serba tidak ideal.
Keputusan memindahkan pertandingan kandang Persik ke Gresik dinilai banyak pihak sebagai bentuk ketidakadilan bagi tim yang sedang berjuang konsisten di papan tengah klasemen Super League 2025/2026. Padahal, atmosfer Stadion Brawijaya selama ini menjadi “senjata rahasia” Persik setiap kali tampil di hadapan Persikmania.
Pelatih Ong Kim Swee tak menutupi kekecewaannya. Ia menilai, alasan keamanan yang membuat laga dipindah tak sepenuhnya logis.
“Kalau main di Gresik bisa, kenapa tidak di Kediri? Padahal faktor keamanannya sama. Ini tentu merugikan tim kami,” ujarnya dengan nada tegas.
Namun, di tengah situasi sulit ini, pelatih asal Malaysia itu mencoba membalik keadaan menjadi motivasi. Ia menegaskan bahwa semangat juang pemainnya tidak akan luntur, sekalipun tanpa sorakan ribuan pendukung di tribun.
“Kami tetap fokus. Di mana pun kami bermain, targetnya tetap tiga poin,” tambah Ong.
Persik sendiri datang dengan modal cukup baik, setelah menahan imbang Arema FC dan menunjukkan peningkatan dalam transisi permainan. Trio penyerang Ezra Walian, M. khanafi, dan Pedro Matos diharapkan bisa menemukan kembali ketajaman mereka untuk membongkar lini belakang Persebaya yang dikenal cepat dalam serangan balik.
Di sisi lain, Persebaya juga tengah dalam tren positif setelah menang atas Persis Solo. Dengan pemain muda seperti Malik Rizaldi, Bruno Moriera dan Gali Freitas, Bajul Ijo punya kecepatan dan kreativitas yang bisa merepotkan Persik.
Pertarungan ini bukan hanya soal siapa yang lebih tajam di depan gawang, tapi juga siapa yang lebih tahan menghadapi tekanan. Bagi Persik, laga ini adalah ujian karakter apakah mereka mampu menjadikan status “musafir” sebagai energi tambahan untuk membungkam keraguan.
Dan mungkin, seperti kata Ong Kim Swee, “tuah kemenangan bisa datang dari mana saja, selama hati dan kerja keras tetap satu untuk Persik.”
Dalam konteks yang lebih luas, kasus Persik Kediri ini menjadi gambaran nyata betapa tata kelola sepak bola Indonesia masih kerap menyisakan tanda tanya besar. Regulasi yang tak berpihak, alasan keamanan yang berulang, hingga minimnya koordinasi antara klub dan pihak penyelenggara membuat klub seperti Persik harus menanggung konsekuensi yang tak seharusnya mereka tanggung.
Sepak bola seharusnya memberi keadilan yang sama bagi setiap tim, baik besar maupun kecil. Ketika “rumah” sendiri tak lagi bisa jadi tempat berlindung, maka satu-satunya kekuatan tersisa hanyalah mental dan kebersamaan.
Jika Persik mampu melewati laga ini dengan kepala tegak, menang atau kalah bukan lagi soal skor tapi soal harga diri dan semangat juang. Karena di tengah segala ketimpangan, perjuangan tanpa pamrih tetaplah hal yang paling indah dalam sepak bola.


