Jepara Mulus Budi atau Akal Bulus “Sebuah Perenungan Jiwa dan Suara Leluhur di Puncak Gunung Karmapala”

Oleh: Djoko TP

Jepara : Tanah Pusaka yang Diberkahi

Jepara bukan sekadar kota. Ia adalah pusaka tanah leluhur, tempat darah pejuang dan budayawan mengalir dalam satu denyut nadi. Dari ukiran tangan rakyat hingga ukiran pemikiran RA Kartini, dari debur ombak di Pantai Kartini hingga senandung doa di Gunung Muria.

Jepara telah lahir sebagai tanah wahyu, bukan hanya tanah data. Namun, sebagaimana pepatah “kadang emas terbungkus lumpur, dan lumpur terbungkus emas,” maka yang terlihat indah tak selalu sejati dan yang terlihat buruk belum tentu nista.

Kini Jepara tampil mulus di mata luar; taman-taman dihias, statistik dibacakan, panggung acara meriah. Tapi apakah kemulusan itu sejati atau hanya permukaan? Apakah ia lahir dari niat tulus membangun, atau dari ilusi pencitraan?

Sunan Kalijaga pernah bersabda:
“Aja mung katon apik rupane, nanging goleka sing becik atine.”
(Jangan hanya melihat yang tampak indah luarnya, carilah yang baik hatinya.)

Jepara Bukan Sekedar Tempat Tapi Ruang Kesadaran

Jepara bukan sekadar nama kabupaten. Ia bukan hanya daratan, lautan, pegunungan, dan pasar-pasar. Jepara adalah ruang, bukan tempat — portal kesadaran menuju dimensi lebih tinggi, di mana nilai-nilai semesta dan titah leluhur bertemu. Ia adalah puncak Gunung Karmapala: tempat segala pikiran, tindakan, dan niat manusia akan menua dan menuai. Jepara tidak bisa didekati hanya dengan data atau strategi, tapi dengan rasa, budi, dan penghayatan.

“Jepara bukan hanya tanah kelahiran, tapi tanah kesadaran. Tempat manusia belajar menjadi bagian dari semesta, bukan sekadar pengatur kehidupan.”

Mulus Itu Bukan Halus Kulitnya, Tapi Pekertinya di zaman ini, kata “mulus” sering dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang tampak indah: jalan licin, laporan rapi, statistik membanggakan. Tapi Jepara tidak sedang butuh kemulusan kosmetik.
Mulus iku dudu mung soal raut rupane, nanging haluse budi pekerti lan beninge pamikiran.”
(Mulus bukan sekadar licin di luar, tapi lembut budi pekertinya, dan jernih jalan pikirannya.)
Jepara membutuhkan kemulusan niat, pikiran, dan perbuatan. Sebab jika tidak, kemulusan yang tampak hanya akan menjadi topeng dari kelicikan, seperti bulus.

Baca Juga:  Menteri Nusron Dorong Percepatan Sertipikasi Tanah untuk Cegah Terjadinya Konflik Atas Tanah Keagamaan di Maluku Utara

Menuju Merafora Bulus Ketika Akal terputus dari Budi

Dalam falsafah Jawa, bulus bukan sekadar kura-kura berlumpur. Ia lambang akal yang kehilangan budi — cerdas tapi culas, pintar tapi manipulatif, diam tapi licin.
Akal bulus tumbuh dari manusia-manusia yang melupakan akar, terputus dari tanah dan semesta, gila kekuasaan tapi buta tanggung jawab. Mereka membangun kebijakan tanpa ruh, membentuk sistem tanpa rasa.
Akeh wong gila pangkat, nanging lali marang akar.
(Banyak orang gila pangkat, tapi lupa pada akar dirinya.)

Inilah akar krisis Jepara hari ini. Kita melihat panggung-panggung kebijakan dibangun dengan algoritma kekuasaan, tapi kehilangan substansi kemanusiaan. Keindahan hanya di luar, retak di dalam.

Jangan Dari Mulus Menuju Bulus?

Dalam budaya Jawa, bulus adalah hewan lamban yang hidup di kubangan, sulit ditangkap karena licin dan senyap. Bulus adalah simbol dari kemacetan nurani, kelicikan tersembunyi, dan ketertutupan dari cahaya kebenaran.

Lalu, apakah Jepara sedang menuju ke arah bulus?
– Ketika rakyat dibiarkan bicara, tapi suaranya tak pernah didengar dan hanya kelompok tertentu yang belum tentu benar yang malah didengar
– Ketika perda tak dibuat, tapi surat edaran beranak-pinak.
– Ketika kios liar dan warung ilegal tumbuh di jantung kota, tanpa keberanian untuk menertibkan atau malah mendapat fasilitas
– Ketika UMKM hanya jadi hiasan seremoni, bukan sahabat sehari-hari.
– Ketika birokrasi lebih nyaman duduk, daripada melayani dengan hati dan hanya diam karena sudah di zona nyaman

Baca Juga:  Satlantas Polres Jepara Kenalkan Tertib Berlalu Lintas kepada Anak SD Lewat Program Edukasi Aladin

Wulang Reh dari Sri Susuhunan Pakubuwono IV mengingatkan:
Yen dadi pemimpin aja mung rumangsa bisa, nanging kudu bisa rumangsa.”
(Kalau jadi pemimpin, jangan merasa bisa segala hal).

Bulus Bukan Nasib, Tapi Pilihan

Sistem bulus adalah sistem yang diam tapi menghancurkan. Ia bekerja di balik meja, di sela lobi-lobi, di balik tanda tangan, dan di ruang gelap pengambilan keputusan. Jika ini tidak dihentikan, maka akan menjadi budaya — bukan sekadar kejadian.
Dan seperti kata para sesepuh:
Sak glintir luput, yen diili-ili dadi glundhung tumungkul.”
(Satu kesalahan kecil jika dibiarkan, akan menjadi bola salju yang menimpa kepala sendiri.)

Moratorium : Jalan Penjernih Niat

Usulan Peraturan Bupati (Perbup) Moratorium untuk menata ulang distribusi kios, pengelolaan aset publik, dan pola pembangunan adalah bentuk penjernihan niat pemerintahan.

Perbup Moratorium adalah tirta amerta (air kehidupan) dalam kemacetan tata kelola. Ia menjadi simbol kesadaran bahwa kita harus berhenti sejenak — bukan untuk mundur, tapi untuk mengatur napas agar lari kita tidak terjerembab.
Jika pemimpin tak mengeluarkan sinyal moral ini, maka rakyat akan bertanya: _”Apakah yang memimpin masih memiliki pambudi luhur atau sekadar panjang angan?”_

Baca Juga:  Akankah The Three Lions Pesta Gol Ke Gawang Iran?

Petuah Leluhur: Jalan Menuju Jepara yang Mulus

Dalam ajaran Sunan Kalijaga, pembangunan tidak dimulai dari batu bata, tapi dari jiwa yang dibeningkan:
Urip iku kudu ngerti sangkan paraning dumadi.”
(Hidup itu harus tahu asal dan tujuan keberadaannya.)

Maka Jepara tidak hanya membangun jalan, taman, atau gedung. Jepara harus membangun jiwa rakyat dan pemerintahannya.

Mari kita rawat kembali:

– Pemimpin yang tidak hanya pandai bicara, tapi berani mendengar suara yang sunyi.
– Masyarakat yang tidak hanya protes, tapi memberi solusi dan teladan.
– Pers yang bukan alat kekuasaan, tapi mata air kebenaran.
– Birokrasi yang bukan penunggu meja, tapi pelayan yang hadir sebelum diminta.

Ingatlah Peringatan Ini, Wahai Jepara

Wahai pemimpin Jepara, jangan hanya mendengar suara tepuk tangan, tapi dengarlah suara bumi. Dengarlah suara warung kecil yang tercekik retribusi, suara nelayan yang tak bisa sandar karena tambatan rusak atau tidak ada tempat bersandar , suara petani tanpa ibformasi dan yang kebanjiran kebijakan tanpa hasil.
Jangan biarkan Jepara menjadi licin seperti bulus, lamban dalam pelayanan, dan tertutup dari nurani.

Jepara iki ora mung tanah, tapi amanah.”

(Jepara bukan sekadar tanah, tapi amanah dari leluhur dan titipan untuk generasi anak cucu)

Mari kita jaga agar Jepara tetap mulus dalam hati, dalam niat dan dalam tindakan.

Catatan : Penulis adalah Waketum Inaker & Pengamat Kebijakan Publik

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!