GREGET TRADISIONAL PASAR BULU: Ruang Edukasi, Budaya dan Ekonomi Rakyat di Kota Semarang
SEMARANG [Berlianmedia]— Pasar Tradisional Bulu kembali menegaskan perannya sebagai ruang hidup masyarakat melalui gelaran “Greget Tradisional Pasare Bulu”, sebuah agenda kolaboratif yang memadukan nilai budaya, edukasi sosial dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Kegiatan ini diwarnai dengan Kirab Budaya yang menampilkan kekayaan tradisi lokal, sebagai identitas Kota Semarang. Arak-arakan budaya tersebut menjadi media edukasi publik, khususnya generasi muda, untuk mengenal dan mencintai warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Tak hanya aspek budaya, acara ini juga menghadirkan Khitan Massal sebagai bentuk kepedulian sosial. Program ini memberikan edukasi kesehatan sekaligus akses layanan bagi masyarakat, menegaskan bahwa pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan juga ruang solidaritas dan gotong royong.
“Tujuan kami menggelar kegiatan ini, agar masyarakat semakin melirik pasar tradisional, untuk semakin meningkatkan transaksinya ekonominya. Selain itu, kita adakan pula dialog publik dengan beberapa narasumber,” jelas Yoss, Ketua Panitia Grebeg Pasar, di sela-sela kegiatan, Minggu (14/12).

Dalam rangka memperluas literasi publik, lanjutnya, panitia juga menyediakan Ruang Komunitas dan Talk Show yang menjadi wadah diskusi terbuka. Berbagai topik dibahas, mulai dari pelestarian pasar tradisional, peran komunitas dalam pembangunan kota, hingga strategi adaptasi UMKM di era digital. Dialog ini diharapkan, mampu mendorong kesadaran kolektif bahwa pasar rakyat adalah pilar penting ekonomi lokal.
Sementara itu, Bazar UMKM menjadi panggung nyata bagi pelaku usaha kecil untuk mempromosikan produk unggulan mereka. Kehadiran Panggung Rakyat semakin menghidupkan suasana dengan pertunjukan seni dan kreativitas warga, menciptakan interaksi langsung antara pedagang, seniman, dan pengunjung.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Greget Tradisional Pasare Bulu Semarang tampil sebagai agenda edukatif yang mengintegrasikan budaya, sosial, dan ekonomi.
“Acara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pasar tradisional memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran publik, penguatan komunitas, dan penggerak ekonomi rakyat yang berkelanjutan,” pungkas Yoss.


