Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju: Refleksi HUT RI ke-80 untuk Kota Semarang Hebat
SEMARANG [Berlianmedia] – Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia dengan tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” menjadi momentum refleksi sekaligus pijakan bersama untuk menatap masa depan bangsa. Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan sejarah agar bangsa Indonesia menguatkan jiwa kebangsaan, mengokohkan kedaulatan, sekaligus menghadirkan kesejahteraan nyata bagi rakyat.
Dalam konteks lokal, Kota Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah harus menjadikan semangat ini sebagai energi kolektif dalam membangun kota yang semakin hebat, berdaya saing, dan berkeadaban.
Sejarah menunjukkan bahwa persatuan adalah modal utama kemerdekaan. Tanpa persatuan, kedaulatan akan rapuh dan kesejahteraan rakyat sulit terwujud. Pesan ini selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 103: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” Ayat ini menjadi landasan moral bahwa persatuan merupakan fondasi kemajuan bangsa.
Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa jiwa lebih utama daripada raga, karena jiwa mengarahkan kehidupan. Demikian pula bangsa: jiwa persatuan dan kedaulatan harus kokoh agar raga pembangunan tidak kehilangan arah.
Kedaulatan Rakyat untuk Kesejahteraan
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Artinya, kebijakan pembangunan harus berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Di Kota Semarang, kedaulatan rakyat harus diwujudkan dalam bentuk partisipasi publik, transparansi kebijakan, dan pengelolaan potensi kota untuk kepentingan warga.
Kesejahteraan rakyat adalah tujuan hakiki negara. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Prinsip ini perlu diwujudkan dalam pembangunan Semarang, mulai dari tata ruang kota, pengendalian banjir, transportasi publik terintegrasi, hingga akses kesehatan dan pendidikan yang merata.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; namun pada keduanya ada kebaikan” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa kekuatan bukan hanya fisik, melainkan juga ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kemandirian. Maka, Semarang harus menyiapkan SDM unggul, masyarakat produktif, serta ekonomi berdaya saing agar mampu menjawab tantangan global.
Perspektif al-Ghazali tentang hubungan jiwa dan raga memberi inspirasi pembangunan: bangsa membutuhkan keseimbangan antara pembangunan jiwa (pendidikan, akhlak, budaya) dan raga (ekonomi, infrastruktur, teknologi). Tanpa keseimbangan itu, pembangunan akan pincang.
HUT RI ke-80 harus menjadi ruang memperbarui tekad kebangsaan. Dengan semangat bersatu, Semarang bisa memperkuat soliditas sosial dan kebhinekaan. Dengan berdaulat, Semarang mampu mengelola sumber daya untuk kepentingan rakyat. Dengan rakyat sejahtera, Semarang akan menjadi kota ramah, adil, dan inklusif. Dan dengan itu semua, Indonesia akan benar-benar maju.
Oleh:
Dr. H. KRAT. AM. Jumai, SE., MM.(Dosen FEB Unimus / Wakil Ketua PDM Kota Semarang)


