Aplikasi Smart City Rembang Mandek, Anggaran ‘Rembang Gemilang Mobile’ Dipertanyakan

REMBANG[Berlianmedia]  — Aplikasi Rembang Gemilang Mobile yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten Rembang pada 2022 sebagai bagian dari program menuju Smart City 2026 kini menuai sorotan publik. Aplikasi yang semestinya menjadi pusat layanan digital masyarakat itu dilaporkan tidak dapat berfungsi dan dinilai mangkrak tanpa perkembangan berarti.

Aplikasi yang masih tersedia di Google Play Store tersebut awalnya dirancang sebagai platform integrasi layanan publik dan informasi daerah.

Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, berbagai fitur di dalam aplikasi tidak dapat digunakan setelah diunduh.
Kondisi itu memicu kritik dari masyarakat. Salah satu warga Rembang, Ali Mustofa, mempertanyakan efektivitas sekaligus transparansi anggaran proyek digital tersebut.

“Sejak diluncurkan sampai sekarang, masyarakat belum merasakan manfaat nyata dari aplikasi itu. Bahkan tidak pernah ada pembaruan sistem. Anggaran pembuatannya harus dibuka secara transparan,” ujar Ali Mustofa, Senin (18/5).

Baca Juga:  Taj Yasin: Pembangunan Infrastruktur Daerah Mampu Satukan NKRI

Ia menilai proyek tersebut terkesan hanya menjadi jargon digitalisasi tanpa implementasi yang jelas di lapangan.
Hingga kini, besaran anggaran pengadaan maupun pengembangan aplikasi Rembang Gemilang Mobile belum pernah dipublikasikan secara rinci oleh Pemkab Rembang.

Informasi yang tersedia hanya menyebutkan bahwa proyek tersebut masuk dalam pagu program Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) pada Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Rembang.

Kepala Dinkominfo Kabupaten Rembang, Budiyono, mengakui aplikasi tersebut memang mengalami stagnasi dan minim perkembangan sejak awal dirinya menjabat.

“Saya melakukan identifikasi terhadap program-program yang progresnya minim atau bahkan nyaris tidak ada perkembangan. Salah satunya aplikasi ini,” kata Budiyono.

Menurut dia, mandeknya pengembangan aplikasi dipengaruhi minimnya dukungan anggaran dan belum masuknya program tersebut dalam prioritas kebijakan daerah.
“Dukungan anggaran maupun kebijakan politik anggaran memang belum menjadikan program ini prioritas utama.

Baca Juga:  Ganjar di Mata Mahfud MD: Pemimpin Merakyat dan Berani

Akibatnya, tidak ada pergerakan sesuai harapan,” ujarnya.
Selain faktor anggaran, Budiyono juga menyoroti lemahnya koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD). Sebagai aplikasi integrator, Rembang Gemilang Mobile bergantung pada sinkronisasi data dan pembaruan sistem dari berbagai OPD.

“Terjadi loss communication. Kami bahkan tidak mengetahui apakah aplikasi milik OPD yang terintegrasi di dalamnya masih aktif dan ter-update atau tidak,” katanya.
Ia menyebut kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi Dinkominfo untuk membenahi program digitalisasi yang selama ini dinilai berjalan stagnan.

Meski demikian, Budiyono memastikan pihaknya mulai melakukan identifikasi dan penyegaran sistem dalam dua bulan terakhir. Ia menargetkan ada pembaruan terhadap aplikasi tersebut paling lambat pada akhir 2026.

“Baik ada anggaran atau tidak, paling tidak tahun ini harus ada perubahan terbaru,” tegasnya.

Baca Juga:  Boyolali Raih Gelar Kabupaten Layak Anak Kategori Nindya

Saat ditanya mengenai total anggaran proyek, Budiyono mengaku belum dapat menyampaikan angka pasti karena proyek tersebut dikerjakan pihak ketiga pada periode sebelumnya.

“Kami masih mencari dokumen kontrak, perjanjian kerja, dan rincian pengadaannya,” pungkasnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!