Antisipasi Krisis Pangan, Ganjar Kenalkan Berbagai Subtitusi Pangan Lokal

BOYOLALI[Berlianmedia] – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggaungkan semangat konsumsi pangan lokal di wilayahnya, sebagai substitusi pengganti nasi untuk mengantisipasi potensi rawan pangan di tahun mendatang.

“Hari ini kita pamerkan pangan lokal dengan satu harapan masyarakat akan makin paham bahwa kita makin kaya dan  kita bisa melakukan. Kalau hari ini kita menyiapkan di tahun-tahun ke depan potensi kerawanan pangan terjadi maka gerakannya mulai hari ini,” ujar Ganjar dalam Festival Pangan Lokal Jawa Tengah di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Rabu (19/10).

Oleh karena itu, lanjutnya, hal itu dimulai dari hulu dan hilirnya, sehingga setiap orang tidak hanya belajar produksi pangan lokal, tapi juga belajar mengolah, sampai membiasakan pangan alternatif atau substitusi atau pengganti.

Baca Juga:  Iduladha 1446 H, Wamen Ossy: Momentum Spiritualisasi Nilai Pengabdian di Lingkungan Birokrasi

Menuturnya, keuntungan pangan lokal juga pada nutrisi atau gizinya yang baik untuk kesehatan. Terutama sebagai bentuk pengurangan kasus stunting (kerdil) mulai dari kehamilan ibu serta bagi anak-anak.

“Itu pangan lokal ternyata cukup bisa membantu mereka. Kita libatkan tenaga penelitian, perguruan tinggi, petani, pemda, berkolaborasi di kegiatan ini,” tuturnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jateng Dyah Lukisari menuturkan, potensi pangan lokal provinsi ini amat banyak. Seperti singkong, ubi jalar, jagung, talas, dan lainnya.

“Potensinya banyak. Yang jadi masalah, konsumsinya masih belum bergerak. Sekarang ini tidak mungkin petani nanam tapi enggak ada yang beli,” ujar Dyah.

Oleh karena itu, tutur Dyah, tantangannya sekarang adalah memulai dari hilir yaitu membiasakan lidah masyarakat mengonsumsi ubi, singkong, dan lainnya, sehingga setelah permintaan meningkat, petani akan bergairah menanam karena produksinya diambil.

Baca Juga:  KAI Hadirkan Program Umroh Gratis Tahap 2

“Saya coba masuk tidak melalui forum yang biasa, seperti lebih banyak mengundang milenial. Karena milenial segmen paling banyak untuk mengonsumsi pangan lokal,” tuturnya.

Salah satu penggerak pangan lokal, Zainu Fitroni selaku pembina dan inisiator perkumpulan petani pekarangan (Pastakaran) Temanggung mengatakan pihaknya mengenalkan produk pangan lokal daerah seperti nasi jagung, sayur khas daerahnya, empis-empis, mocaf, talas, ketela, ubi ungu, ubi kuning dan singkong.

“Kami bergerak di tiga hal yaitu tanaman pekarangan, pangan lokal, dan agribisnis. Ini momen yang tepat dan merupakan Hari Pangan. Kami merupakan komunitas petani yang mengembangkan pertanian dan pakan lokal,” ujarnya. Zainu juga membuka stan yang memamerkan pangan lokal.

Penggerak pangan lokal asal Kabupaten Tegal, Mubarak Ravi menuturkan pihaknya membuat makanan olahan dari singkong yang diberi nama Djintoel. Singkong itu diolahnya dengan diparut, dikukus, kemudian dipotong tipis dan digoreng jadi keripik.

Baca Juga:  Warga Binaan Lapas Semarang Tunjukkan Suara Emasnya Lewat Kedungpane's Got Talent

“Bagus sekali langkah pemerintah akhirnya  bisa pameran. Harapannya, produknya bisa gampang masuk ke minimarket,” tuturnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!