Dari Penjual Koran ke Penggerak Pendidikan: Ketulusan Gus Mun untuk Anak-Anak Brebes

BREBES[Berlianmedia] — Banjir bandang yang melanda Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada 25–26 Maret 2026, bukan hanya menyisakan kerusakan infrastruktur dan kesedihan bagi warga, tetapi juga menghadirkan kisah kepedulian yang menginspirasi. Di tengah kondisi sulit tersebut, muncul sosok muda yang bergerak cepat membantu anak-anak terdampak, bukan dengan janji, tetapi dengan aksi nyata. Ia adalah Muhammad Munawir Lasiyono, yang akrab disapa Gus Mun.

Banjir akibat luapan Sungai Babakan merendam tujuh desa dan melumpuhkan jalur nasional Ketanggungan–Pejagan. Banyak anak kehilangan perlengkapan sekolah mereka. Dalam situasi ini, Gus Mun hadir menyerahkan bantuan alat tulis kepada anak-anak di dua kecamatan, yakni Ketanggungan dan Tanjung, mencakup Desa Ketanggungan, Padakaton, Kedawung, dan Karangmalang. Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana, namun bagi anak-anak yang kehilangan segalanya, alat tulis adalah simbol harapan untuk kembali belajar.

Baca Juga:  82 Warga Binaan Rutan Banjarnegara Mendapat Remisi Kemerdekaan

Menariknya, kepedulian Gus Mun bukan muncul secara tiba-tiba. Ia dikenal sebagai putra daerah Brebes yang sejak lama aktif menginisiasi berbagai forum pemberdayaan pemuda dan pendidikan. Latar belakang kehidupannya yang sederhana—bahkan pernah menjadi penjual koran—membentuk karakter empati yang kuat terhadap masyarakat kecil. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa akses pendidikan menjadi jalan penting untuk mengubah masa depan.

Putra kedelapan dari sepuluh bersaudara ini juga memiliki perjalanan akademik yang panjang. Mulai dari pendidikan dasar di Brebes hingga meraih kesempatan melanjutkan studi S2 di Universitas Islam Indonesia melalui Beasiswa Unggulan Kemendikbud. Ia juga lulus seleksi program S3 di Universitas Negeri Jakarta. Namun, yang menarik, prestasi akademik tersebut tidak menjauhkan dirinya dari akar sosial. Sebaliknya, ia justru aktif mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan komunitas, seperti taman bacaan masyarakat, PKBM, hingga yayasan sosial di Brebes.

Baca Juga:  Pemkot Semarang Dukung Penguatan Peran NU Lewat Peresmian Gedung PCNU

Pengalaman profesionalnya pun cukup luas, mulai dari perusahaan multinasional hingga peran sebagai dosen. Namun, di tengah kesibukan itu, ia tetap menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pribadi tidak selalu harus berujung pada kenyamanan individu, tetapi bisa menjadi sarana memberi manfaat bagi masyarakat.

Apa yang dilakukan Gus Mun dalam membantu korban banjir bukan sekadar aksi spontan, melainkan cerminan konsistensi. Ia memahami bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali rumah, tetapi juga menjaga semangat anak-anak untuk tetap sekolah. Pendidikan menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah kondisi sulit.
Kisah Gus Mun menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil. Dari seorang mantan penjual koran, ia tumbuh menjadi penggerak pendidikan dan sosial di daerahnya. Kepeduliannya menunjukkan bahwa kontribusi tidak harus menunggu posisi tinggi, tetapi bisa dimulai dari niat tulus untuk berbagi.

Baca Juga:  Pemkot Semarang Gandeng Kompas dan ISOPLUS Gelar Semarang 10K

Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi daerah, sosok seperti Gus Mun menjadi harapan. Ia tidak hanya memberi bantuan, tetapi juga menanamkan nilai bahwa kepedulian adalah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda Brebes.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!