IDUL FITRI DALAM FRAME ALKUTURASI BUDAYA KAMPUNG GABAHAN
Oleh : Gunung W Mahessa
Momentum Lebaran menjadi bagian dinamika Masyarakat Perkotaan, khususnya di kampung kampung Semarang yang memiliki ciri khas Budayanya.
Di awali dengan Sholat Ied di Masjid besar menjadi nafas kebersamaan, meski berada di tengah-tengah Masyarakat Tionghoa, tidak mengurangi nilai nilai kebersamaan, meskipun menggunakan jalan umum di depan Rumah Mereka, bahkan untuk melakukan Ibadah Sholat Ied, masyarakat Tionghoa tidak merasa terganggu untuk mendapatkan akses jalan.
Menjadi unik memang, ketika sedang melaksanakan Sholat Ied ada warga yang lewat di samping barisan Sholat dan meminta ijin lewat, dengan kata “Permisi” ketika rakaat pertama sedang berlangsung, kita memaklumi karena ketidak tahuan mereka.
Selepas Sholat Ied, Masyarakat setempat yang merayakan Lebaran, berkumpul di salah satu tempat terbuka atau fasum, melangsungkan adat dan tradisi Budaya yang menjadi warisan leluhur berupa Riyo’ oan atau makan bersama sebagai awal selesainya Bulan Puasa dan memasuki bulan Syawal.
Puncaknya moment saling maaf memaafkan sebagai bukti bahwa Idul Fitri di Perkotaan tidak mengurangi kadar atau taster masyarakat untuk tetap menjaga kebersamaan, Budaya saling memaafkan dan bersilaturahmi bagian dari Amar ma’ruf nahi mungkar yg nyata….
Salam Kupat Opor Ayam sambel Goreng khas Semarang….
Catatan : Penulis adalah Pegiat Seni Kota Semarang


