Cerpen: Bayang Rahasia dari Ponsel Sunyi

SEMARANG [Berlianmedia] – Malam itu Arga hanya ingin menenangkan pikirannya setelah hari yang panjang, tetapi sebuah panggilan video dari nomor asing mengubah segalanya. Di balik layar itu tersaji drama kriminal yang seolah nyata, membuatnya terpukul dan kehilangan logika. Ia mengira semua yang terjadi hanyalah modus penipuan biasa, sampai akhirnya ia menemukan kebenaran yang jauh lebih gelap dari bayangannya.

Arga menatap langit malam dari jendela ruang tamunya, mencoba meredakan letih yang menempel sejak pagi. Ponselnya terasa berat di saku. Dua minggu terakhir ia merasa perangkat itu bekerja aneh, sering panas tiba tiba dan baterainya cepat habis. Ia sempat membawa ponsel itu ke konter kecil dekat pasar. Pemiliknya ramah. Terlalu ramah. Ia membersihkan ponsel Arga secara gratis, katanya sebagai bonus pelanggan.

Arga tidak terlalu memperhatikan saat itu. Kini ia hanya ingin istirahat.

Ketika ia hendak mematikan televisi, dering video call mendadak pecah dari ponselnya. Nomor asing. Foto profilnya menampilkan logo kepolisian dengan warna biru pekat yang memantul terang di layar.

Arga ragu. Ia menunggu tiga detik. Rasa penasaran mengalahkan kehati hatian. Ia menekan tombol terima.

Wajah seorang pria berseragam polisi memenuhi layar. Rahangnya tegas. Wajahnya garang. Sorot matanya menatap langsung seakan ingin menembus pertahanan Arga.

Saudara Arga Pratama. Suaranya berat dan memerintah.

Arga mengangguk meski tenggorokannya kering. Saya.

Saudara terlibat dalam jaringan peredaran narkotika lintas provinsi. Kami punya saksi yang mengarah kuat pada saudara. Jangan coba mengelak.

Arga tercekat. Ia mencoba berbicara tetapi kata katanya tidak keluar. Tiba tiba layar terbelah. Di sisi kanan muncul seorang pria kurus berjaket lusuh. Wajahnya seperti orang baru saja dihajar dunia.

Baca Juga:  Pantau One Way Tol Bersama Menteri PUPR, Ganjar; Alhamdulillah Lancar

Itu dia Pak. Itu yang menerima paket. Saya cuma disuruh.

Arga mematung. Ini jelas omong kosong. Ia tidak mengenal orang itu. Saya tidak tahu siapa Anda. Ini salah orang.

Polisi gadungan itu mendekat ke kamera. Suaranya berubah dingin. Saudara Arga Pratama. Lahir delapan belas April seribu sembilan ratus sembilan puluh satu. Nomor KTP sekian. Alamat Jalan Kenari C tujuh belas. Nomor rekening Bank Nusantara tiga sembilan dua satu. Betul semuanya kan.

Arga hampir kehilangan keseimbangan. Semua itu benar. Benar semua.

Ia merasa dunia menyempit. Dari mana mereka dapat ini. Suaranya pecah.

Kami punya akses. Lebih baik Anda kooperatif. Nada suara itu terdengar seperti ancaman yang dibungkus formalitas.

Arga memegang dahinya. Kepalanya berdenyut. Layar menampilkan kurir palsu itu yang pura pura gemetar sambil menunjuk Arga. Polisi itu lalu berkata cepat. Untuk membatalkan tuntutan, Anda harus melakukan klarifikasi digital. Klik tautan yang kami kirim. Sekarang.

Sebuah link masuk ke chat. Arga memandangi tautan itu. Huruf hurufnya asing seperti mantra jahat. Ia tahu soal phishing, malware, penipuan daring. Ia pernah membaca berita tentangnya. Namun suara tegas orang di layar membuat logikanya kabur.

Apakah ini benar polisi. Pertanyaan itu keluar begitu saja, lirih dan tidak yakin.

Jawabannya membuat bulu kuduknya berdiri. Kalau Anda tidak percaya, tim kami bisa menjemput Anda malam ini. Mereka menuju rumah Anda sekarang.

Baca Juga:  Ganjar: Selamat Bekerja Untuk Sumanto Yang Resmi Jabat Ketua DPRD Jateng

BRAK. BRAK. BRAK.

Ketukan keras terdengar dari pintu depan.

Arga melonjak. Jantungnya berdetak tak beraturan. Si polisi gadungan berbicara lebih cepat. Itu mereka. Jangan buat masalah. Klik tautannya.

Arga berjalan mundur. Suara langkah di teras membuatnya ingin lari. Ia menatap pintu. Ketukan itu datang lagi. BRAK.

Suara berat memanggilnya. Arga Pratama. Buka pintu.

Tangan Arga gemetar. Ibu jarinya hampir menyentuh tautan itu.

Namun insting terakhir dalam dirinya berteriak. Polisi tidak pernah mengurus kasus narkoba lewat video call. Tidak pernah.

Arga menguatkan napas. Ia menatap layar dengan ketegasan yang tersisa. Saya tidak klik apa pun.

Polisi gadungan itu memekik marah. Kau diperingatkan.

BRAK.

Pintu terbuka.

Arga berteriak.

Namun yang muncul bukan polisi. Melainkan Pak Romano, tetangga tua yang sudah tiga kali salah mengetuk rumah dalam dua bulan terakhir.

Arga. Maaf. Saya kira ini rumah anak saya. Lampunya sama. Saya salah lagi.

Arga hampir rubuh. Setelah memastikan semuanya baik baik saja, ia langsung memutus panggilan video itu dan memblokir nomor tersebut.

Ia berpikir ancamannya sudah selesai. Drama konyol itu hanyalah penipuan yang hampir berhasil. Ia meletakkan ponsel di meja sambil mengatur napas.

Namun beberapa detik kemudian, ponsel itu bergetar pelan. Sebuah notifikasi masuk.

Akun Anda sedang diakses dari perangkat baru.

Arga menatap layar dengan mata melebar. Ia tidak pernah memberi izin apa pun. Tidak mengklik tautan. Tidak membuka apa pun.

Lalu notifikasi kedua muncul.

Login berhasil. Mobile Banking.

Arga membeku. Ini tidak mungkin. Aku belum klik link. Mereka tidak bisa masuk.

Baca Juga:  Langkah Inklusif Jakarta: Transportasi Umum Gratis untuk Semua

Pesan ketiga datang lebih cepat.

Penarikan satu juta rupiah berhasil.

Lalu pesan berikutnya.

Penarikan lima juta rupiah berhasil.

Arga merasa lututnya melemas. Ia meraih ponselnya tetapi layar tiba tiba gelap. Mati total. Seperti direnggut dari tangannya oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Saat ia mengangkat ponsel itu, ada sesuatu yang mengganjal di bagian belakang casing. Benda tipis seukuran kuku jari, hitam seperti serpihan bayangan.

Itu bukan miliknya.

Ia mencabut benda itu perlahan. Permukaannya terasa hangat, seolah baru bekerja.

Ada tulisan kecil di bagian bawahnya.

AutoSync Key Active.

Kilatan ingatan muncul. Konter kecil dekat pasar. Senyum ramah pemiliknya. Pembersihan ponsel gratis. Baterai cepat habis. Ponsel sering panas. Semua itu bukan kebetulan. Semua itu awal dari jebakan.

Seluruh drama video call tadi hanyalah tirai asap. Tujuannya bukan membuatnya klik link. Tujuannya membuatnya tidak memperhatikan perangkat mungil yang bekerja diam diam sejak lama.

Arga menjatuhkan AutoSync Key itu ke lantai.

Tepat ketika ia hendak menginjaknya, ponselnya menyala sendiri. Layar hitam memunculkan satu kalimat tipis dan menusuk.

Terima kasih sudah percaya kami butuh link.

Lalu layar padam lagi.

Kali ini benar benar padam.

Arga berdiri terpaku, memandang ponsel mati itu. Dunia digital yang dulu terasa seperti sekutu kini berubah menjadi musuh yang tidak pernah ia lihat datang. Dalam sunyi malam yang kembali tenang, ia menyadari satu hal. Musuh paling berbahaya bukan yang muncul di layar. Tetapi yang bersembunyi di baliknya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!