Cerpen: Lengkung Jarak di Titik Terakhir Pertemuan

SEMARANG [Berlianmedia] – Kadang jarak tidak tercipta karena permusuhan, tetapi karena seseorang memilih diam daripada melukai. Namun diam pun bisa menjadi luka yang lain. Laras belajar bahwa menjaga silaturahmi tidak berarti mengorbankan diri sendiri, dan melepas seseorang bukan selalu bentuk kalah. Ada saat ketika harga diri harus menjadi pintu terakhir yang menuntunnya pulang kepada dirinya sendiri.

Hujan rintik turun sejak sore, memercik jendela kamar Laras seperti ketukan halus yang tidak pernah berhenti. Di meja kecil dekat ranjang, sebuah foto lama berdiri tegak di dalam bingkai sederhana. Ia dan Ardan tersenyum lebar dalam foto itu, seperti dua orang yang sama sekali tidak mengenal kata menjauh. Setiap kali Laras melihatnya, ada sesuatu yang menghangat sekaligus mengiris di dadanya.

Foto itu menjadi simbol yang ia pertahankan terlalu lama, mungkin lebih lama dari yang seharusnya.

Malam itu, Laras memutuskan menatap foto itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak lagi ingin menanyakan apa salahnya. Tidak lagi ingin mengingat pesan singkat penuh jeda yang tidak pernah terbalas. Tidak lagi memikirkan alasan mengapa seseorang yang dulu datang dengan begitu dekat tiba tiba memilih menjadi asing. Semua itu hanya membuat ruang dadanya menjadi terlalu sempit.

Ia membuka ponselnya dan menemukan unggahan lama yang pernah ia simpan. Kata kata itu seolah berbicara dari celah waktu.

Kalo orang menjauh kita tidak usah mendekat.
Kalo orang buang muka tidak usah menyapa.
Kalo orang tidak suka, tidak usah memaksa.
Silaturahmi memang penting, tapi harga diri juga penting.
Ingat, kalo dia membenci jangan balas benci.

Laras mengusap layar ponselnya dengan pelan. Ada ketenangan yang muncul dari kata kata itu, tapi juga ada perih yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti obat yang bekerja sambil menimbulkan rasa nyeri. Namun ia tahu, ia butuh keduanya.

Baca Juga:  Sri Mulyani Ajak Warga Japanan Kembangkan Potensi Lokal

Keesokan harinya, Laras menerima pesan dari Nara, sepupu Ardan. Pesan yang membuat napasnya tertahan sejenak.

Bisa ketemu sore nanti? Ada hal penting.

Laras sempat ragu. Ia sudah mencoba melepaskan, tetapi hatinya belum sepenuhnya kebal dari harapan kecil yang sering datang tanpa diundang. Ia menutup mata, menimbang. Namun pada akhirnya ia menjawab, Ya. Mungkin ia perlu mendengar alasan dari seseorang yang melihat segalanya dari luar lingkaran.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil yang tenang. Aroma kopi melayang lembut di udara. Nara sudah duduk di sudut dekat jendela, tampak gelisah.

Begitu Laras duduk, Nara menundukkan kepala. “Aku sebenarnya tidak nyaman ngomong ini. Tapi kamu berhak tahu.”

“Ini tentang Ardan ya?”

Nara mengangguk pelan. “Dia menjauh bukan karena dia marah atau benci. Dia justru merasa kamu terlalu baik.”

Laras memalingkan pandangannya dari jendela. “Terlalu baik?”

“Iya. Dia takut. Dia bilang dia tidak sanggup dekat dengan kamu. Katanya dia tidak pantas dan tidak ingin kamu berharap lebih. Jadi menurut dia, cara terbaik adalah pergi pelan pelan.”

Laras mencengkeram kedua telapak tangannya. Ada sesuatu yang retak, tetapi retakan itu tidak lagi membuatnya ingin menangis.

“Apa dia pernah memikirkan rasaku? Atau persahabatan kami yang sudah bertahun tahun?” tanyanya lirih.

Nara terdiam. “Aku rasa dia pikir dia sedang melindungimu. Padahal justru menyakitimu.”

Laras tersenyum kecil. Senyum pahit yang hanya muncul ketika seseorang akhirnya menerima sesuatu yang tidak bisa ia ubah.

Baca Juga:  Ratusan Warga Difabel Batang Terima Bantuan Kemensos

“Kalau begitu, biarkan dia pergi. Aku tidak mau mengejar orang yang sibuk berlari dari bayangannya sendiri.”

Nara tampak lega dan bersalah dalam waktu bersamaan. “Maaf harus menyampaikan ini.”

“Tidak apa. Mungkin memang harus begini.”

Ketika Laras pulang malam itu, hujan sudah berhenti. Tapi bau tanah basah seolah mengingatkannya pada sesuatu: setiap hujan yang pergi selalu meninggalkan bekas. Begitu pula manusia.

Hari hari setelahnya bergerak lambat, namun lebih tenang. Laras mulai melakukan hal hal kecil yang dulu diabaikan. Memasak untuk dirinya sendiri. Menata ulang kamarnya. Membersihkan meja kerja. Bahkan mulai melihat dunia tanpa menunggu pesan dari seseorang yang memilih membisu.

Ia tidak lagi menatap ponsel sebelum tidur. Tidak lagi menyusun kemungkinan di kepalanya. Tidak lagi menyimpan foto di meja. Foto itu ia pindah ke dalam laci, bukan karena ingin melupakan, tetapi karena sudah waktunya memberi ruang untuk kenyataan.

Namun hidup sering datang dengan kejutan yang tidak pernah kita sambut. Suatu malam, suara langkah mendekati rumahnya terdengar jelas di antara keheningan.

Laras membuka pintu dan mendapati Ardan berdiri di depan pagar. Tubuhnya basah oleh gerimis yang kembali turun. Wajahnya tampak letih, seperti seseorang yang kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.

“Laras,” ucapnya pelan. “Kita bisa bicara?”

Laras memegang daun pintu. “Untuk apa?”

“Aku mau minta maaf. Aku… aku salah. Aku pikir menjauh akan membuat semuanya lebih mudah. Tapi ternyata tidak. Aku hanya takut.”

“Takut aku berharap lebih?” suara Laras datar, bukan marah. Hanya lelah.

Ardan menunduk. “Iya. Aku takut menyakitimu.”

“Kamu justru menyakiti dengan caramu sendiri,” jawab Laras.

Baca Juga:  Irdam IV/Diponegoro Tinjau Lokasi TMMD ke-124 Kodim 0703/Cilacap, Tekankan Pengabdian dan Gotong Royong

Ardan menarik napas panjang. “Aku ingin mulai lagi. Kalau kamu mau.”

Laras memandangnya lama. Ada sesuatu yang kosong di mata Ardan. Kosong yang tidak pernah ia lihat ketika mereka masih bersama dalam foto lama itu.

“Ardan,” ujar Laras perlahan, “kamu tidak perlu merasa bersalah lagi.”

Ardan mengangkat wajahnya penuh harap. “Jadi kita bisa kembali seperti dulu?”

Laras menggeleng, namun senyumnya tenang. “Tidak.”

Ardan tertegun, bibirnya terbuka tanpa kata.

“Aku sudah selesai berbaik hati pada seseorang yang tidak ingin ada di sampingku,” lanjutnya. “Dan aku tidak marah. Aku juga tidak benci. Aku hanya… selesai.”

Ardan menelan ludah, suaranya pecah. “Tapi aku masih sayang.”

Laras tersenyum tipis. “Masalahnya, rasa itu datang terlambat.”

Ardan terdiam. Hujan turun lebih deras, namun tidak menutupi tatapan hampa yang muncul di wajahnya.

Laras melangkah mundur, memegang pintu. “Kamu tahu apa yang lucu?” katanya dalam nada lembut yang justru menampar.

“Aku berhenti menunggu sejak sebelum kamu memutuskan pergi.”

Pintu tertutup perlahan di antara mereka. Suara hujan menjadi satu satunya saksi. Di balik pintu, Laras berdiri memejamkan mata. Ia merasakan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan selama ini, seolah ada ruang baru di dalam dadanya yang selama ini terkunci.

Ia membuka laci meja kecil dan mengeluarkan foto yang dulu berdiri di sana. Dengan napas yang mantap, ia menyelipkannya kembali, menutup laci, dan mematikan lampu.

Di luar, Ardan masih berdiri, tetapi Laras tahu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia telah pulang kepada dirinya sendiri.

Dan itulah harga diri yang selama ini ia jaga.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!