SEMARANG [Berlianmedia] – Selama enam hari, keluhan Sarmadi lelaki paruh baya yang dikenal suka dahwen menjadi bahan tertawaan warga Desa Pandanaji. Namun rangkaian keluhan itu justru menuntun pada terbongkarnya rahasia yang sudah terkubur ratusan tahun. Cerita ini mengisahkan bagaimana suara seorang lelaki yang dianggap remeh ternyata membuka pintu menuju masa lalu kelam yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.
Sarmadi duduk di bangku bambu di depan rumah kecilnya yang berlumut. Lelaki itu sudah lama dikenal warga sebagai sosok penyuka dahwen, mengadukan banyak hal yang menurut orang lain sepele. Namun bagi Sarmadi setiap keganjilan adalah alarm yang tidak boleh diabaikan. Sejak kecil ia terbiasa merasa tidak didengarkan dan kebiasaan itu menjelma menjadi kebutuhan untuk memastikan setiap keresahan keluar sebagai kata. Baginya diam selalu terasa seperti jebakan.
Pagi itu ia datang ke warung Bu Pinem dengan nafas terengah. Wajahnya masam seakan menyimpan kejengkelan yang menumpuk sejak subuh.
“Saya tadi menemukan papan panggangan tempe saya ada jejak sepatu. Siapa pun yang melakukannya pasti sengaja. Saya tidak terima,” katanya.
Bu Pinem tersenyum tipis. Ia sudah hafal ritme keluhan itu. “Pak Madi mungkin hanya perasaan saja. Barangkali ada anak kecil lewat.”
“Tidak mungkin. Saya tahu betul bentuk jejak kaki orang dewasa.” Sarmadi mengangkat alis, merasa tidak dipercaya.
Hari pertama berlalu dengan percakapan yang hanya meninggalkan angin lalu. Tidak ada yang menganggapnya penting.
Pada hari kedua ia datang ke balai desa. Kali ini ia mengatakan ada orang asing yang mondar mandir di dekat sumur belakang rumahnya menjelang malam. Perangkat desa mendengarkan sambil saling bertukar pandang. Mereka mencoba menenangkan Sarmadi namun pada akhirnya menganggap itu hanya kecemasan berlebih.
Hari ketiga keluhannya semakin mengganggu telinga orang. Pintu kandang ayamnya didapati terbuka tanpa sebab. Ia yakin ada yang membuka. Tidak ada ayam yang hilang tetapi ia bersikeras bahwa kejadian itu harus diperiksa. Lagi lagi tidak ada yang menanggapi serius.
Namun semuanya berubah pada hari keempat. Sarmadi menceritakan bahwa setiap dini hari ia mendengar langkah berat dan suara napas seseorang di dalam rumah. Ia bangun dengan perasaan diawasi. Kadang barang di dapur berpindah tempat. Sesekali ia mencium aroma parfum yang tidak pernah ia gunakan. Suara suara kecil itu menghantam ketenangannya. Untuk pertama kali ia mengadukan ketakutan bukan kejengkelan.
Tetangga hanya mengaitkannya dengan kurang tidur. Beberapa menertawakan di belakang punggungnya.
Hari kelima menjadi hari yang paling berat bagi Sarmadi. Ia berkeliling desa mencari siapa pun yang mau mendengar. Suaranya bergetar. Matanya memerah. “Ada yang mengikuti saya. Setiap malam. Saya tidak bohong. Saya takut,” katanya dengan lirih.
Kali ini seorang remaja bernama Gino tidak menertawakannya. Gino memperhatikan bahwa keluhan Sarmadi memiliki pola. Jejak kaki. Pintu terbuka. Orang asing. Barang pindah. Suara. Semua terjadi berurutan dan semakin intens. Gino teringat rumor tentang pencuri yang berkeliaran di desa desa sekitar. Ia mulai berpikir bahwa semua keluhan itu mungkin bukan omong kosong.
Pada hari keenam Gino memutuskan untuk bertindak. Ia datang sebelum subuh dan bersembunyi di balik tumpukan kayu di halaman belakang rumah Sarmadi. Suasana hening, hanya suara serangga malam yang terdengar. Ketika jarum jam mendekati pukul empat lewat tujuh belas, pintu dapur bergerak perlahan. Seorang lelaki berperawakan besar masuk dengan langkah waspada. Senter kecil di tangannya menyorot laci demi laci.
Gino menahan napas sambil menggenggam ponselnya. Setelah lelaki itu masuk lebih dalam ia berlari keluar memanggil warga dan perangkat desa. Beberapa menit kemudian rumah itu digeruduk orang kampung. Pencuri mencoba kabur lewat jendela namun tertangkap sebelum sempat melompat.
Warga terbelalak ketika mengetahui bahwa pencuri itu adalah buronan dari kabupaten sebelah. Di karung yang ia bawa terdapat barang barang hasil curian milik warga. Semua memuji ketelitian Gino. Namun perhatian segera beralih saat menemukan sebuah kotak kayu tua yang tidak dikenal.
Kotak itu diambil pencuri dari kolong tempat tidur Sarmadi. Pencuri mengira kotak itu berisi emas atau benda berharga. Ketika dibuka isinya adalah sepucuk surat bersegel merah dengan lambang kuno yang tidak dikenali warga. Surat itu menggunakan bahasa Jawa kuno. Seorang guru sekolah menerjemahkannya. Dan sejak kalimat pertama dibacakan suasana menjadi sunyi.
Surat itu berisi pengakuan seorang bernama Reksamanggala, hidup pada abad ke sembilan belas, yang menyembunyikan harta hasil penjarahan di sebuah rumah kecil di wilayah yang kemudian menjadi Desa Pandanaji. Ia menuliskan bahwa rumah itu kelak akan diwariskan kepada keturunannya, sekaligus membawa beban dan peringatan bagi siapa pun yang menyentuh rahasia tersebut.
Nama terakhir yang disebut dalam surat itu membuat semua orang terpaku.
Sarmadi putra Sarto.
Sarmadi sendiri tidak pernah tahu apa pun tentang masa lalu leluhurnya. Rumah itu diwariskan dari kakeknya tanpa cerita panjang. Yang ia tahu hanya satu hal bahwa sejak kecil ia selalu merasa rumah itu menyimpan hawa yang tidak mudah dijelaskan.
Warga mulai memandangnya dengan rasa penasaran bercampur takut. Apakah Sarmadi keturunan seorang perampok legendaris. Apakah keresahan yang ia rasakan selama ini merupakan gema dari masa lalu yang ingin terbongkar. Atau apakah pencuri itu sebenarnya mencari kotak itu sejak awal.
Saat suasana kalang kabut Sarmadi berdiri dengan tenang. Suaranya pelan namun terdengar jelas. “Saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan. Kalau saya tidak mengadu mungkin semua ini tidak pernah terlihat.”
Kata kata itu membuat orang orang terdiam.
Namun kejutan terakhir datang dari polisi. Mereka menegaskan bahwa pencuri itu menguntit seseorang selama berhari hari. Orang itu adalah Sarmadi. Ia percaya Sarmadi menyimpan benda berharga yang diwariskan turun temurun.
Yang membuat semuanya bergidik adalah satu fakta tambahan. Jejak sepatu yang pertama kali dikeluhkan Sarmadi bukan milik pencuri itu.
Sampai hari ini tidak ada yang tahu milik siapa jejak itu. Tidak ada yang tahu siapa orang asing yang pertama memasuki halaman rumah Sarmadi, jauh sebelum pencuri datang.
Dan yang lebih mengusik lagi, aroma parfum yang sering dicium Sarmadi masih sesekali muncul meski rumah itu kini selalu dijaga warga. Tidak ada yang pernah mengetahui dari mana asalnya.
Cerita itu menjadi buah bibir desa. Tidak ada yang lagi menertawakan suara keluhan Sarmadi. Sebab mereka sadar bahwa kadang suara yang paling sering diabaikan adalah satu satunya suara yang mampu membuka pintu menuju kebenaran yang selama ini tersembunyi dalam gelap.


