Tiga Kali Motor Hilang di Parkiran RS, Sistem Keamanan Dipertanyakan
MEDAN[Berlianmedia] – Kasus kehilangan sepeda motor di area parkir sebuah rumah sakit di Medan kembali terjadi. Kali ini, korbannya adalah Lilik, warga Medan Marelan, yang tengah menjaga anaknya dirawat di rumah sakit tersebut. Ia mendapati sepeda motornya lenyap pada Senin (4/10)
Meski area parkir telah dilengkapi kamera pengawas (CCTV) dan petugas keamanan, insiden pencurian ini tetap terjadi. Lilik pun meluapkan kekesalannya karena merasa sistem keamanan rumah sakit lalai dan tidak memberikan jaminan perlindungan bagi kendaraan pengunjung.
“Ya diganti lah bang, masa dibiarkan begitu saja. Sudah jelas ada CCTV, tapi motor masih bisa hilang,” ujarnya dengan nada kesal.

Investigasi awal menunjukkan bahwa CCTV di area kejadian diduga tidak seluruhnya berfungsi optimal, sehingga rekaman yang seharusnya bisa membantu mengidentifikasi pelaku menjadi terbatas. Beberapa sumber internal menyebutkan bahwa titik buta (blind spot) di area parkir menjadi celah utama pencurian kendaraan.
Pihak keamanan rumah sakit, melalui perwakilannya, Eko, mengakui bahwa ini bukan kali pertama kejadian serupa menimpa pengunjung.
“Sudah tiga kali bang di sini kehilangan motor, tapi kami selalu tanggung jawab. Untuk kasus ini, kami akan ganti, tapi kami juga lagi periksa lebih dalam,” ujar Eko.
Pernyataan tersebut menimbulkan tanda tanya besar: mengapa pencurian bisa berulang tanpa adanya perbaikan sistem keamanan yang signifikan.
Pengamat keamanan publik menilai bahwa kasus seperti ini menunjukkan lemahnya sistem pengawasan internal di sejumlah fasilitas pelayanan publik. Idealnya, setiap rumah sakit memiliki prosedur keamanan berlapis, termasuk pengawasan aktif dari petugas dan sistem parkir elektronik yang mencatat waktu masuk-keluar kendaraan.
Sementara itu, pihak kepolisian telah menerima laporan resmi dan tengah menelusuri rekaman CCTV untuk mengidentifikasi pelaku. Polisi juga berencana memanggil pihak manajemen rumah sakit untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait sistem pengawasan yang diterapkan.
Kasus ini menambah daftar panjang lemahnya keamanan di fasilitas publik, di mana masyarakat seharusnya merasa aman saat mendampingi keluarganya berobat.


