Anggota DPR RI: Tragedi Kanjuruhan Tidak Boleh Terulang
JAKARTA[Berlianmedia] – Tragedi sepakbola di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur menjadi duka mendalam bangsa Indonesia. Kericuhan seusai laga Arema lawan Persebaya dengar skor 2:3 yang menewaskan 130 orang termasuk dua aparat kepolisian itu, harus dijadikan momentum untuk membenahi olahraga sepak bola, termasuk semua yang terlibat dalam olahraga tersebut.
Rasa duka yang mendalam datang dari Anggota DPR RI Singgih Januratmoko, menanggapi tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia.
“Kami ungkapkan duka yang mendalam bagi korban dan keluarganya atas kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Musibah ini menjadi hikmah untuk perbaikan di masa mendatang,” ujar Anggota DPR RI Singgih Januratmoko, di Jakarta, Senin (3/10).
Sementara itu, sepak bola haruslah tetap menjadi hiburan. Sepak bola tidak boleh manjadi sesuatu yang seharga nyawa. Ia bukan palagan yang menampilkan kekerasan, apalagi kuburan. Menurutnya, sportivitas memiliki aspek profesionalitas yang di dalamnya terdapat karakter amanah dan kejujuran. Sebagai pemain, ia akan amanah dengan perintah pelatih dan kaptennya. Dengan kejujurannya, pemain tidak bisa disuap agar timnya kalah.
Sportivitas bukan hanya harus dimiliki oleh para pemain sepak bola, tapi semua unsur yang terlibat di dalamnya. Termasuk suporter jangan sampai tersulut emosi.
“Kecintaan kita terhadap tim dan pemain, jangan menjadikan titik panas emosi. Ini hanya permainan yang harus ada kalah dan menang,” ujarnya.
Menurutnya, jangan sampai kala pemain menang, para suporter memuja. “Sementara saat kalah, dihujat bahkan diserang. Ini semua menjadikan sepak bola sesuatu yang absurd, tidak masuk akal dan akan terus bermasalah,” ujarnya.
Bila sportivitas dijunjung tinggi, maka akan menjadi pemersatu dapat melahirkan kerukunan antarsuporter, antartim hingga antar masyarakat pecinta sepak bola khususnya dan masyarakat umumnya.
“Suasana kondusif ini dapat memajukan sepak bola nasional. Bahkan dengan sportivitas itu, bisa menghilangkan praktik suap atau kecurangan dalam dunia sepak bola,” paparnya.
Ia mengingatkan, emosi berupa amarah bisa berakibat negatif.
“Sesuatu yang berlebihan selalu membawa hal yang kurang baik. Fanatik itu boleh, tapi jangan sampai berlebihan, sehingga mendewakan tim dan pemain,” tuturnya.
Menurutnya, pemujaan yang berlebihan itu juga memunculkan sikap permusuhan dan kekerasan antarsuporter Sehingga mereka yang beragama pun lupa, saling melukai dan saling menyerang.
Ia berharap, tragedi di Stadion Kanjuruhan itu tidak terjadi di masa depan. Ia meminta, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai induk olahraga sepak bola membenahi berbagai masalah, mulai dari prosedur pengaman hingga membina para suporter. Dengan demikian, sepak bola tetap menjadi kebanggaan rakyat Indonesia nantinya.


