Jateng Dihantui Diabetes, Ida Ajak Masyarakat Deteksi Dini dan Mawas Diri

SEMARANG[Berlianmedia] –  Tren Kasus Diabetes di Jawa Tengah mengalami kenaikan yang cukup signifikan belakangan ini. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah menyebutkan tak kurang dari 647,093 kasus Diabetes terjadi di provinsi ini.

Angka tersebut terbilang fantastis jika dibandingkan dengan data kasus di rentang 2018-2021 yang tergolong fluktuatif dalam kisaran 400,000-500,000 kasus. Fakta tersebut menjadi alarm penyadar kembali, bahwa Penyakit Tidak Menular (PTM) tak bisa dianggap remeh.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah bersama Anggota Komisi E Hj Ida Nurul Farida MPd dan menggelar kegiatan ‘Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM)’ di Resto Mina Kencana Tengaran, Rabu (18/10) lalu.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 100 orang perwakilan dari Bidan Desa dan kader Posyandu di Kecamatan Tengaran. Metode pelaksanaan deteksi dini faktor resiko PTM meliputi pemeriksaan tekanan darah, pengukuran berat badan dan tinggi badan, pengukuran lingkar perut dan pemeriksaan laboratorium sederhana.

Baca Juga:  Pemkot Semarang Rampungkan Pembangunan Perpustakaan Baru Kota Semarang

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Tengah yang dalam acara tersebut di wakili oleh Kepala Balkesmas Ambarawa Sukamto SKM MKes dr Shodiq Tjahjono mengatakan PTM masih menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Sejalan dengan hal itu, lanjutnya, banyak kasus PTM yang masih belum terdiagnosis.

“PTM ini masih jadi penyebab utama kematian (di dunia) Riset Kesehatan Dasar juga menunjukkan setidaknya 69% lebih kasus diabetes melitus dan 63% kasus hipertensi masih belum terdiagnosis. Keadaan ini akhirnya mengakibatkan penanganan jadi lebih sulit, komplikasi, bahkan kematian lebih dini,” ujar Shodiq.

Meski berbahaya, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya dapat dicegah. Ida menegaskan bahwa pencegahan dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor resiko penyakit.

“PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya, yaitu aktivitas tidak sehat seperti merokok, makan junk food, diet yang tidak sehat, dan kurang aktifitas fisik. Mencegah dan mengendalikan faktor risiko relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan PTM,” tuturnya.

Baca Juga:  BCA Siap Gelar BCA Expo Semarang 2022

Senada Ida menambahkan, pembrrdayaan dan peningkatan peran masyarakat merupakan salah satu strategi pengendalian PTM paling efektif dan efisien.

“Salah satu strategi pengendalian PTM yang efisien dan efektif adalah pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat. Masyarakat diberikan fasilitas dan bimbingan untuk ikut berpartisipasi dalam pengendalian faktor risiko PTM dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan deteksi dini, monitoring faktor risiko PTM serta tindak lanjutnya,” ujar Ida.

Sementara itu, kegiatan tersebut termasuk ke dalam Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Posbindu ditargetkan menjadi wujud peran serta masyarakat dalam melakukan deteksi dini, monitoring, dan tindak lanjut faktor risiko PTM.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!