44 Tahun Terisolir, AM Jumai Minta Pemerintah Fokus pada Banyuasin

BANYUASIN [Berlianmedia] – Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PW Muhammadiyah Jawa Tengah, Dr H AM Jumai,SE.MM melakukan kunjungan ke daerah eks transmigrasi Air Sugihan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Dalam kunjungannya, ia menyoroti kondisi infrastruktur yang memprihatinkan meskipun daerah ini sudah menjadi bagian penting dalam menyumbang hasil perkebunan sawit dan karet untuk ekonomi daerah.

Wilayah ini, yang menjadi lokasi proyek transmigrasi pada tahun 1980-1982, masih terisolir dengan akses jalan yang rusak parah. “Selama 44 tahun, masyarakat di sini menghadapi tantangan besar dalam hal transportasi, pendidikan, dan kesehatan. Padahal, kontribusi mereka sangat besar terhadap pendapatan daerah,” ucap AM Jumai, kepada berlianmedia.com, Selasa (31/12).

Sebagian besar warga Air Sugihan menggantungkan hidup dari hasil perkebunan sawit dan karet. Namun, mereka harus menghadapi sulitnya akses jalan yang menghambat distribusi hasil bumi ke pusat kota. Jalan rusak menjadi penghambat utama aktivitas ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan komitmen pemerintah untuk memperbaikinya.

Baca Juga:  Meriahkan HUT RI, Tegalsari Gelar Lomba Memasak Nasi Goreng

“Daerah ini membutuhkan perhatian serius. Infrastruktur seperti jalan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi soal kehidupan masyarakat yang bergantung pada mobilitas,” ujar AM Jumai.

Kabupaten Banyuasin, yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Musi Banyuasin, memiliki visi menjadi daerah yang berdaya saing, aman, dan sejahtera. Namun, wilayah eks transmigrasi seperti Muara Padang dan Muara Sugihan masih tertinggal jauh dari sisi pembangunan infrastruktur dasar.

Di sisi lain, perkembangan pendidikan di daerah ini menunjukkan potensi besar. Mukardi, penerima Muhammadiyah Awards, adalah salah satu tokoh yang berhasil mendirikan 28 sekolah sejak tahun 1980-an dengan dukungan masyarakat setempat. Pendidikan juga didukung oleh keberadaan Pondok Pesantren Daarul Abroor, yang terus berkembang di bawah pimpinan KH Edy Sunari.

Baca Juga:  Aksi Damai Dukung Pengesahan UU TNI, Warga Batang Berbagi Takjil di Depan Makodim

Sebagai salah satu putra daerah yang pernah menimba ilmu di SDN 08 Muara Padang dan melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Daarul Abroor, AM Jumai merasa memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.

“Pemerintah harus. segera turun tangan. Perlu ada tindakan nyata, tidak hanya janji-janji, untuk memperbaiki jalan, fasilitas kesehatan, dan layanan publik lainnya. Saya mengajak para menteri dan pejabat terkait untuk datang langsung dan melihat kondisi ini,” tegasnya.

Wilayah eks transmigrasi Banyuasin memiliki potensi besar untuk berkembang jika didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah, kawasan ini dapat menjadi salah satu contoh sukses integrasi ekonomi dan sosial dari program transmigrasi di masa lalu.

Baca Juga:  Pemkot Semarang Dukung Penguatan Peran NU Lewat Peresmian Gedung PCNU

“Masyarakat Banyuasin hanya ingin hidup lebih layak. Jika pemerintah memberikan perhatian penuh, saya yakin daerah ini bisa menjadi motor penggerak pembangunan di Sumatera Selatan,” ujar AM Jumai.

Laporan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus merata dan tidak boleh ada daerah yang terabaikan. Banyuasin, dengan semua potensinya, layak mendapatkan perhatian yang lebih besar dari pemerintah.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!