Sudah 117 Tahun, Sudahkah Kita Benar-Benar Bangkit?
SEMARANG[Berlianmedia] – 20 Mei 1908, Budi Utomo berdiri di STOVIA Jakarta. Dari situlah lahir kesadaran bahwa bangsa ini tidak bisa selamanya diam dijajah. 117 tahun kemudian, kita sudah merdeka, punya bendera, konstitusi, dan suara di dunia internasional. Tapi pertanyaannya tetap sama: apakah kita sudah benar-benar bangkit, atau hanya berhenti pada seremonial tahunan?
Kebangkitan sejati tidak diukur dari meriahnya upacara 20 Mei. Ia diukur dari kemandirian, persatuan, dan daya juang bangsa.
Dari sisi kemandirian, kita masih terlalu bergantung impor. Beras, gula, garam industri—semua masih masuk dari luar. Di tengah gejolak geopolitik 2026, ketergantungan ini rawan jadi bom waktu. Bangsa yang tidak bisa memberi makan rakyatnya sendiri belum bisa disebut bangkit. Kebangkitan itu ketika petani sejahtera, riset pangan maju, dan kita tidak lagi gentar harga pangan global naik.
Dari sisi persatuan, tantangan kini lebih halus. Perpecahan tidak lagi datang dari penjajah, tapi dari polarisasi media sosial, intoleransi, dan infiltrasi ideologi asing lewat ormas tak bertanggung jawab. Karena itu, penguatan pengawasan Perda Ormas bukan sekadar urusan hukum, tapi upaya menjaga nyawa kebangsaan.
Dari sisi daya juang, generasi 1908 berjuang dengan keterbatasan, tapi semangat belajar dan berorganisasi mereka luar biasa. Hari ini kita punya internet, akses informasi, dan generasi muda melek digital. Sayangnya, banyak yang terjebak konten instan dan budaya konsumtif. Kebangkitan tidak datang dari scrolling 6 jam sehari, tapi dari anak muda yang mau belajar, berkarya, dan membangun usaha.
Tantangan 2026 juga berbeda. AI mengubah peta kerja, krisis iklim makin nyata, dan perang narasi merajalela. Kebangkitan hari ini berarti menyiapkan SDM unggul, menjaga lingkungan, dan memperkuat literasi digital agar masyarakat tidak mudah diadu domba.
Kebangkitan nasional tidak akan selesai di museum sejarah. Ia harus hidup di kampung kita ketika karang taruna mengelola BUMDes, ketika DPRD mengawal dana hibah, ketika warga menolak hoaks dan intoleransi.
Jadi, sudah 117 tahun. Kita mau terus bangun tidur, atau mulai bangun peradaban? Kebangkitan nasional bukan milik pemerintah atau ormas tertentu. Ia milik kita semua. Saatnya bergerak, bukan sekadar berpidato. (M.Taufiq)


