Pasar Dugderan Semarang Digelar Gratis, Pedagang Tak Bayar Retribusi

SEMARANG [Berlianmedia]– tradisi malam Pasar Dugderan menjelang datangnya bulan puasa kembali digelar di Aloon-aloon Masjid Agung Kauman Semarang dan disambut antusias ribuan warga.

Sejak sore hari, pengunjung terus berdatangan hingga memadati seluruh area aloon-aloon, Sabtu (7/2) malam.

Terlihat ratusan stan UMKM yang menjajakan aneka kuliner menjadi magnet utama. Aroma masakan menggoda membuat pengunjung betah duduk santai sambil menikmati hiburan musik yang disuguhkan panitia.

Meski sempat diguyur hujan deras, hal tersebut tak menyurutkan minat warga. Mereka memilih berteduh di tenda-tenda stan maupun di halaman Masjid Kauman sambil menunggu hujan reda.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Dugderan memiliki nilai sejarah dan emosional yang kuat bagi warga Kota Semarang.

Baca Juga:  FIFA Siap Bentuk Tim Transformasi Bersama Pemerintah Indonesia

“Meski tadi sempat hujan, tapi tetap ramai sampai uyel-uyelan. Karena Dugderan ini sangat bersejarah dan sudah dilaksanakan sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia,” ujar Agustina saat membuka Pasar Dugderan.

Menurutnya, tradisi Dugderan bukan sekadar perayaan menyambut Ramadan, tetapi merupakan warisan budaya yang hidup dan menjadi momentum kegembiraan bagi seluruh masyarakat Kota Semarang.

“Saat ini kita sedang berjuang agar Pasar Dugderan bisa menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Doakan nggih bapak ibu, kalau ini menjadi warisan budaya, siapapun wali kotanya wajib mengadakan Pasar Dugderan,” katanya yang disambut tepuk tangan meriah pengunjung.

Agustina berharap tradisi tahunan ini mampu menumbuhkan semangat persaudaraan, toleransi, serta membawa berkah bagi masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa tahun ini Pasar Dugderan mengusung tema serba jadul dengan nuansa kebaya.

Baca Juga:  Jateng Fasilitasi 300 Kios Pangan Murah, Sediakan Beras dan Telur

“Tahun ini Dugderan lebih ramai dengan tematik serba jadul memakai kebaya. Semoga ramai sampai 16 Februari 2026. Nanti akan kita akhiri dengan arak-arakan Warag Ngendog dari Balai Kota ke Masjid Agung Kauman hingga MAJT,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva mengatakan pemerintah Kota Semarang memastikan Pasar Dugderan 2026 digelar tanpa pungutan retribusi bagi pedagang.

Aniceto yang akrab di sapa amoy memastikan kebijakan ini diambil untuk mendukung pertumbuhan UMKM sekaligus sebagai bentuk inovasi untuk menjaga tradisi Dugderan tetap ramai.

“Perlu diingat, Kopi Semawis dan Pasar Dugderan ini tidak boleh ada penarikan retribusi dalam bentuk apa pun kepada pedagang. Semuanya gratis, pedagang tidak boleh dikenakan retribusi,” ujar Amoy usai mengikuti pembukaan Pasar Dugderan yang dibuka oleh Walikota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, Sabtu (7/2) malam.

Baca Juga:  Telkom dan Indosat Ooredoo Hutchison Jalin Kemitraan Strategis

Dia menjelaskan bahwa dampak Dugderan terhadap UMKM sangat signifikan.

Tahun ini tercatat sebanyak 245 UMKM terlibat, dan jumlah tersebut berpotensi bertambah hingga 500 pelaku usaha jika lokasi memungkinkan.

“Ini akan menjadi bahan evaluasi karena peminatnya sangat banyak. Sesuai perintah Bu Wali Kota, tempat-tempat yang memungkinkan akan kita optimalkan,” paparnya.

Aniceto menambahkan, pihaknya juga akan mengevaluasi berbagai daya tarik yang diminati masyarakat, mulai dari jenis hiburan, permainan, hingga ragam kuliner, agar Pasar Dugderan terus berinovasi setiap tahun.

 

Mari Berbagi:

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!