Dugderan Menjelang Ramadan, Tradisi Sejak 144 Tahun Silam di Semarang
SEMARANG [Berlianmedia]– Budaya Dugderan menjelang ibadah puasa ramadan pada akhir bulan Sya’ban 1446 Hijriah, merupakan tradisi yang dilengkapi sejak 144 tahun silam dan kini Dugderan diselenggarakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jalan Gajah Raya, Kota Semarang, Jumat (28/2).
Dugderan sendiri berasal dari kata “Dug”, yang berasal dari Bedug yang dipukul sebagai penanda akan dimulainya ibadah puasa dan “Der”, yang merupakan implementasi kata suara meriam yang dibunyikan sebagai penanda, yang dijaman sekarang digantikan petasan.
Sebelum suara bedug ijo yang dipukul oleh Sekda Sumarno dan suara meriam atau petasan di bunyikan, di bacakanlah Suhuf Halaqah (Pengumuman) oleh Sekda Jateng, yang diterima dari Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, sebagai penanda akan dimulainya menjalankan ibadah puasa.
Pada moment tradisi yang sudah ada sejak tahun 1881 tersebut, Sekda Jateng Sumarno berperan sebagai Kanjeng Raden Mas Tumenggung Prawirapradja, sedangkan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti berperan sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.
Tradisi budaya yang hanya ada di Kota Semarang tersebut, sebagai pengingat warga bahwa bulan puasa susah tinggal menunggu jam, sehingga umat Islam di Kota Semarang dan sekitarnya khususnya, diminta mengisi bulan suci dengan beribadah dan memperbanyak amal yang berguna bagi pribadi, serta masyarakat sekitar juga bangsa.
Tradisi yang telah ada sejak 1881 itu, bertujuan mengingatkan warga Kota Atlas khususnya, jika Ramadan telah di depan mata. Sesaat sebelum bunyi-bunyian “dug” dari bedug dan “der” dari meriam, di bacakanlah Suhuf Halaqah oleh Sekda Jateng, yang diterima dari Wali Kota Semarang.
Dengan adanya tradisi Dugderan menjelang Puasa tersebut, dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar, sebab dalam tradisi Dugderan, diadakan pula pasar malam, yang berisi hiburan dan jual beli produk-produk lainnya.
“Harapannya, melalui momen ini, baik dari lokal Semarang, bahkan dari luar Jateng, bisa datang ke sini selama masa Dugderan dan menjadi salah satu event wisata,” harap Sekda Sumarno.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti berharap, momen tersebut juga menjadi perekat warga Kota Lumpia. Ia berharap, setelah pesta demokrasi, seluruh warganya bersatu dalam membangun Semarang dan tidak tersekat-sekat.


