Cerpen: Misteri Tugas Tulis Tangan Dosen
SEMARANG [Berlianmedia] – Malam itu, ruang kerja dosen UT sunyi, hanya diterangi lampu meja. Sebuah notifikasi WA dari mahasiswa yang jarang bersuara memecah kesunyian. Foto-foto tugas tertulis tangan muncul di layar, membingungkan sekaligus memikat. Di era digital ini, siapa yang masih menulis tangan? Tapi semakin ia membaca, dosen itu sadar, tugas ini bukan sekadar pekerjaan akademik ini adalah pesan dari masa lalu yang terlupakan.
Lampu meja menyorot tumpukan buku dan catatan yang berserakan. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dosen itu menyeruput kopi yang mulai mendingin, mencoba menenangkan diri setelah hari panjang. Suasana hening, sampai suara notifikasi WA memecah kesunyian. Sekilas, layar menampilkan nama mahasiswa yang jarang aktif.
Rasa penasaran mengalahkan kantuk. Ia membuka pesan itu. Satu per satu, muncul foto halaman kertas, rapi, penuh tulisan tangan. Mata dosen itu melebar. Tugas mata kuliah yang biasanya dikumpulkan sebagai file digital kini muncul dalam tinta dan kertas, seolah menentang zaman.
Ia menelusuri halaman demi halaman. Setiap tulisan rapi, tanpa coretan. Margin dipenuhi catatan tambahan refleksi pribadi, pertanyaan filosofis, kritik lembut terhadap sistem. Dosen itu terdiam, merasakan kehadiran pemilik tulisan seolah duduk di hadapannya.
“Kenapa masih menulis tangan?” gumamnya, menyeruput kopi. Hatinya mulai berdebar. Ada sesuatu yang aneh, cara mahasiswa itu menekankan beberapa kata, bahkan gaya tulisannya terasa familiar, seakan ia pernah melihat sebelumnya.
Ia mulai membaca lebih seksama, terhanyut dalam narasi pribadi mahasiswa itu. Ada cerita tentang impian, kegelisahan, pertanyaan moral. Semua tersusun logis, namun mengalir seperti monolog batin yang tulus. Setiap halaman seperti menuntunnya ke sudut pemikiran yang jarang disentuh.
Dosen itu mengirim pesan singkat: “Terima kasih. Aku akan membaca ini dengan seksama.” Tak ada balasan. Layar tetap hening. Namun satu hal menarik perhatian: di pojok halaman terakhir, ada catatan kecil tulisannya hampir sama dengan gaya tangannya sendiri dulu:
“Terima kasih sudah menjadi guru yang sabar. Semoga suatu hari kita bertemu secara nyata. R.”
Ia menatap layar lagi, notifikasi lain muncul: sebuah foto meja kosong, buku catatan terbuka, pena di atasnya, tapi tidak ada orang. Rasa heran menjalar. Ia menelusuri riwayat pesan, mencoba menghubungi nomor mahasiswa, tapi nomor itu kini tak aktif. Profil hilang, pesan seakan memudar.
Dosen itu menatap catatan yang sudah dicetak. Ada rasa kagum bercampur takut. Dalam dunia digital, seseorang masih bisa meninggalkan jejak melalui tinta, pesan yang hidup meski orangnya tidak terlihat.
Beberapa halaman menunjukkan margin yang terasa familiar. Monolog internalnya semakin kuat: “Kenapa aku merasa ini bukan sekadar tugas?” Perlahan, ingatannya terbuka. Gaya tulisan, cara memberi penekanan, margin yang penuh refleksi… semuanya seperti dirinya sendiri, puluhan tahun lalu, ketika ia masih mahasiswa.
Detak jantungnya semakin cepat. Ia menunduk, membaca satu halaman terakhir sekali lagi. Inisial di pojok halaman—R—bukan sembarang huruf. Itu adalah inisial dirinya sendiri, nama ketika ia menulis tugas yang tak pernah dikumpulkan. Tiba-tiba semua jelas.
Dosen itu tidak membaca tugas mahasiswa. Ia membaca masa lalunya sendiri, tercermin melalui catatan yang seolah kembali dari masa lalu. Tugas tertulis tangan itu bukan sekadar pekerjaan akademik, melainkan pesan dari dirinya sendiri, mengingatkan tentang ketakutan, keraguan, dan keputusan yang membentuk siapa ia sekarang.
Lampu meja tetap redup, kopi dingin di cangkir, malam hening. Dosen itu menulis pesan balasan bukan untuk mahasiswa, tapi untuk dirinya sendiri:
“Terima kasih, aku sudah memahami.”
Ia tersenyum pahit. Kini ia tahu, pesan paling berharga terkadang datang dari tempat paling tidak terduga. Dan masa lalu, bahkan yang terlupakan, bisa kembali menghantui, memberi pelajaran, dan menyentuh hati dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Ruang kerja itu sunyi, namun penuh keajaiban. Dunia digital tidak mampu menghapus tinta dan pesan yang ditulis tangan jejak manusia sejati yang menunggu untuk ditemukan kembali.








