AM Jumai: Demo Ojol Cermin Kegagalan Elit Bangsa
SEMARANG[Berlianmedia] – Gelombang demonstrasi para pengemudi ojek online (ojol) yang marak di berbagai daerah, termasuk di Kota Semarang, bukan sekadar persoalan tarif atau kebijakan aplikator. Aksi massa ini sesungguhnya adalah cermin dari kekecewaan rakyat terhadap elit bangsa yang gagal memahami amanah sebagai pelayan masyarakat.
Hari ini, kita menyaksikan jurang kesenjangan yang makin lebar. Para pengemudi ojol harus bekerja belasan jam di jalanan hanya untuk penghasilan yang pas-pasan, sementara pejabat dengan mudah menaikkan gaji, tunjangan, dan fasilitasnya. Fenomena ini melukai rasa keadilan dan menimbulkan luka sosial yang mendalam. Elit bangsa seolah tampil sebagai penguasa, bukan pengabdi rakyat.
Tak heran bila keresahan rakyat akhirnya meledak dalam bentuk demonstrasi. Demo ojol hanyalah satu contoh ekspresi dari akumulasi kekecewaan yang lebih luas. Selama akar ketidakadilan ini tidak diatasi, gelombang protes dari sektor lain akan terus bermunculan.
Yang juga perlu dicermati adalah posisi aparat kepolisian dalam setiap gelombang demonstrasi. Mengapa sasaran protes sebenarnya adalah pemerintah atau DPR, tetapi yang selalu berhadapan dengan rakyat justru polisi? Kondisi ini menjadikan aparat seolah “tameng” negara, sehingga benturan dengan massa sulit dihindari. Akibatnya, citra polisi sebagai pengayom rakyat kian tergerus.
Karena itu, diperlukan SOP yang jelas, humanis, dan berkeadilan dalam penanganan aksi unjuk rasa. Kepolisian harus menjadi jembatan dialog, bukan sekadar benteng kekuasaan. Kapolri, kapolda, hingga kapolres perlu memastikan anggotanya tidak terus-menerus diposisikan berhadap-hadapan dengan masyarakat yang sejatinya hanya ingin menyampaikan aspirasi.
Namun kita juga tidak boleh terjebak pada persoalan teknis semata. Demo ojol hanyalah gejala dari penyakit bangsa yang lebih mendasar: kepemimpinan yang tersesat. Korupsi, politik uang, dan penyalahgunaan kekuasaan membuat rakyat kehilangan kepercayaan. Ketika suara rakyat diabaikan di parlemen, jalanan menjadi ruang terakhir untuk didengar.
Karena itu, bangsa ini harus menyiapkan generasi berintegritas yang berani tampil sebagai pemimpin baru. Pemimpin yang rendah hati, dekat dengan rakyat, dan menjadikan politik sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar perebutan kursi. Sistem hukum yang tegas terhadap korupsi serta pendidikan politik yang sehat bagi generasi muda adalah kunci membangun masa depan yang lebih berkeadaban.
Demo ojol adalah alarm keras bagi bangsa ini. Ia menandakan keresahan rakyat yang semakin dalam. Jika tidak segera ditangani dengan kebijakan yang adil dan kepemimpinan yang bersih, gelombang yang lebih besar niscaya akan datang. Sudah saatnya kita mengembalikan politik kepada rakyat, memperbaiki hubungan negara dengan masyarakat, serta menempatkan polisi kembali sebagai pengayom, bukan lawan rakyat.
Oleh: AM Jumai, Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) Kota Semarang


