Pesan Bijak Bagi Mereka yang Terpandang di Masyarakat, “GALAK NING OJO CLUTHAK”
BERLIANMEDIA.COM – Di tengah kehidupan bermasyarakat, tidak sedikit orang yang diakui keberadaannya, mulai dari tingkat RT, RW, ASN, Tokoh Agama, Tokoh Msyarakat, Pejabat politik, Pengusaha, semua dihormati, bahkan dijadikan tokoh panutan.
Entah karena jasanya, kedudukannya, ilmunya, atau sifat baiknya yang dimiliki, mereka menjadi sosok yang terpandang, sosok dimana tempat orang bertanya, dan tempat orang bergantung.
Ketika posisi itu sudah tercapai, sering kali muncul godaan lebih tinggi, lebih berkuasa, atau lebih hebat dibandingkan orang lain. Di sinilah falsafah Jawa “Galak Ning Ojo Cluthak” hadir sebagai pengingat yang sangat berharga.
Frasa yang sederhana ini terdengar kasar, namun maknanya sangat dalam dan luas. Secara harfiah, “galak” berarti tegas, berani, berkarakter kuat, atau memiliki pendirian yang kokoh.
Sedangkan “cluthak” artinya rakus, bisa berarti sombong, jangan angkuh, jangan merasa paling benar, jangan merendahkan orang lain dengan sikap atau perkataan yang menyakitkan, dan yang paling penting: jangan “korup.”
Bagi mereka yang sudah diakui, atau diorangkan, dan ditokohkan di tengah masyarakat, pesan ini adalah pedoman utama agar kehormatan yang dimiliki tidak berubah menjadi bumerang.
Menjadi terpandang bukan berarti memiliki izin untuk bertindak sewenang-wenang atau mengambil hak orang lain. Justru sebaliknya, penghormatan yang diberikan masyarakat adalah amanah yang meminta tanggung jawab lebih besar.
Sosok yang galak atau tegas sangat dibutuhkan. Ketegasan dalam memegang prinsip, ketegasan dalam menegakkan kebenaran, ketegasan dalam melindungi kepentingan bersama, dan ketegasan dalam memberi contoh perilaku baik.
Sifat tegas ini menjadikan seseorang dipercaya dan diandalkan. Namun, ketegasan itu tidak boleh berubah menjadi kekerasan hati, kesombongan, atau penyalahgunaan kekuasaan.
Kata “cluthak” dalam falsafah ini mengandung makna perilaku yang buruk, yaitu meninggikan diri sendiri sambil menekan orang lain, merasa semua apa yang dilakukan adalah benar, menganggap pendapat orang lain tidak ada harganya, serta berani “korup” atau mengambil hak milik bersama demi kepentingan pribadi.
Sifat korup adalah wujud nyata dari sikap cluthak, karena seseorang merasa berhak mengambil apa saja dari masyarakat yang mempercayainya, hanya karena ia merasa sudah terpandang atau berkuasa.
Bagi orang yang sudah ditokohkan, sifat cluthak—termasuk korupsi—adalah awal dari kejatuhan. Rasa hormat masyarakat perlahan akan berubah menjadi rasa takut yang dingin, lalu berubah menjadi kekecewaan mendalam saat mengetahui amanah dirampas, dan akhirnya rasa hormat itu hilang sama sekali.
Kehormatan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu sikap angkuh atau satu tindakan korupsi.
Nilai inti dari “Galak Ning Ojo Cluthak” adalah keseimbangan dan integritas. Jadilah sosok yang berkarakter kuat dan tegas, namun tetaplah rendah hati, luwes, menghargai setiap manusia di sekelilingmu, dan yang paling utama: bersih dari tindakan korupsi.
Meskipun kamu merasa sudah diakui, terpandang, dan ditempatkan di posisi terhormat, ingatlah bahwa posisi itu ada karena dukungan dan pengakuan orang banyak. Seperti tinggi sebuah pohon, ia kokoh karena akarnya tertanam kuat di tanah.
Tanah di sini adalah masyarakat tempat kamu berada. Semakin tinggi kedudukan dan keterpandanganmu, semakin dalam pula kerendahan hati dan kejujuranmu harus terjaga.
Falsafah ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari seberapa keras ia berbicara atau seberapa tinggi ia menempatkan dirinya, melainkan dari seberapa bijak ia mengendalikan diri ketika berada di puncak penghormatan, serta seberapa bersih ia menjaga amanah yang dititipkan masyarakat.
Jadilah orang yang tegas dan berkarakter, namun jauh dari sifat sombong, angkuh, dan korup. Itulah cara terbaik menjaga kehormatan, dan itulah ciri sejati seorang tokoh yang dicintai dan dikenang masyarakat selamanya.


