Perpusnas Dorong Naskah Kuno Jawa Tengah Masuk Ingatan Kolektif Nasional

SEMARANG [Berlianmedia]— Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mendorong berbagai naskah kuno yang tersebar di wilayah Jawa Tengah untuk segera didaftarkan dalam program Ingatan Kolektif Nasional (IKON).

Selain itu, Perpusnas juga memotivasi dinas yang membidangi arsip dan perpustakaan daerah agar mendaftarkan koleksi arsip pentingnya ke dalam program Memori Kolektif Bangsa (MKB).

IKON merupakan program registrasi nasional bagi naskah kuno yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan peradaban bangsa Indonesia. Sementara MKB adalah kumpulan arsip perjalanan sejarah bangsa yang menjadi aset nasional sekaligus cerminan identitas dan jati diri Indonesia.

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Penggalian Potensi Naskah Kuno Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional” yang digelar Perpusnas di Semarang pada Kamis–Jumat (21–22/5).

Kegiatan ini merupakan implementasi dari Peraturan Perpusnas RI Nomor 2 Tahun 2023 tentang Program Registrasi Naskah Kuno sebagai Ingatan Kolektif Nasional.

Beberapa naskah kuno yang dinilai perlu segera masuk dalam registrasi IKON antara lain kitab karya KH Sholeh Darat, karya KH Ahmad Rifai, koleksi naskah kuno Keraton Surakarta, hingga manuskrip dari kawasan Merapi–Merbabu yang selama ini dikenal menyimpan banyak warisan intelektual Nusantara.

Baca Juga:  Akhmad Hadian Lukita Tersangka Tragedi Kanjuruhan Dibebaskan

Pustakawan Dinas Arsip dan Perpustakaan Jawa Tengah, Ahmad Budi Wahyono, yang memandu forum tersebut, mengajak seluruh komunitas pecinta manuskrip dan perwakilan dinas arsip serta perpustakaan se-Jawa Tengah untuk aktif mengidentifikasi dan mendaftarkan naskah kuno sesuai standar Perpusnas.

“Mari kita gas poll menemukan naskah kuno di Jateng. Untuk langkah awal, kita daftarkan IKON kitab karya KH Sholeh Darat dan KH Rifai Kalisalak. Selanjutnya naskah koleksi Keraton Surakarta dan kemudian kita dorong naskah dari kawasan Merapi–Merbabu,” ujar Budi Wahyono.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Dewan Pakar IKON sekaligus mantan Sekretaris Utama Perpusnas, Sri Sumekar, memaparkan kriteria dan mekanisme pengusulan naskah kuno sebagai Ingatan Kolektif Nasional.

Menurutnya, program IKON bertujuan melestarikan, melindungi, dan membuka akses publik terhadap warisan dokumenter Indonesia berupa naskah kuno yang memiliki nilai penting bagi sejarah peradaban dan kemanusiaan.

Baca Juga:  PLN Teruskan Tanam Mangrove Perkokoh Pantai Utara Jateng

“Melalui program IKON, kita lestarikan secara baik dan sebarkan seluas-luasnya naskah kuno warisan peradaban bangsa kita kepada masyarakat,” jelasnya.

Sri Sumekar menambahkan, output utama program IKON adalah mengarusutamakan naskah kuno dalam penelitian, kajian akademik, dan pengembangan pengetahuan. Dengan demikian, masyarakat diharapkan semakin bangga terhadap warisan intelektual Nusantara yang adiluhung.
Adapun petunjuk teknis pendaftaran IKON dapat diakses melalui: s.id/JuknisIKON2025 dan s.idFormIKON2026.

Sejumlah narasumber turut hadir dalam forum tersebut, di antaranya Ketua Dewan Pakar IKON sekaligus mantan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Prof. Dr. Mukhlis Paeni, pendiri Turast Ulama Nusantara Nanal Ainal Fauz serta pimpinan Sraddha Institut Rendra Agusta.

Suasana forum berlangsung antusias dan edukatif. Para narasumber tidak hanya memaparkan teori pelestarian manuskrip, tetapi juga langsung membacakan berbagai naskah kuno dari aksara aslinya, mulai dari aksara Jawa, Arab Pegon, hingga aksara Bugis.

Baca Juga:  Dianggarkan Rp 15,3 Miliar untuk Konektivitas Ekonomi, Ahmad Luthfi Tinjau Jalan Todanan-Ngawen Blora

Momen yang paling menyita perhatian peserta terjadi ketika Prof. Mukhlis Paeni, guru besar sejarah dan antropologi dari Universitas Hasanuddin dan Universitas Gadjah Mada, membacakan sebuah syair beraksara Bugis. Ia menjadi satu-satunya narasumber yang mampu membaca aksara tersebut secara langsung di forum.

Tepuk tangan peserta pun membahana setelah Prof. Mukhlis menerjemahkan syair itu ke dalam Bahasa Indonesia. Isi syair tersebut mengandung pesan moral tentang pentingnya menuntut ilmu dan beramal sebagai bekal kehidupan akhirat, serta peringatan agar manusia tidak serakah terhadap dunia dan harta benda.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa naskah kuno bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan, identitas budaya, dan warisan intelektual bangsa yang perlu dijaga bersama agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!