Semangat Raden Ajeng Kartini Hidup, Perjuangan Kesetaraan Perempuan Belum Usai
SEMARANG [Berlianmedia]— Peringatan Hari Kartini setiap 21 April bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi atas perjuangan panjang kesetaraan perempuan di Indonesia.
Sosok Raden Ajeng Kartini dikenang sebagai pelopor emansipasi, yang menyalakan cahaya perubahan di tengah kuatnya budaya patriarki dan keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan pada masanya.
Gagasan besar Kartini yang terabadikan dalam semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi fondasi penting, dalam mendorong lahirnya kesadaran kolektif tentang hak perempuan.
Lebih dari sekadar kutipan historis, semangat tersebut merupakan seruan untuk terus melawan ketidakadilan, memperluas akses pendidikan, serta memastikan ruang partisipasi yang setara di berbagai sektor kehidupan.
Di tengah perkembangan zaman, perjuangan itu belum sepenuhnya selesai. Ketimpangan akses pendidikan, diskriminasi di dunia kerja, hingga kekerasan berbasis gender masih menjadi tantangan nyata yang dihadapi perempuan Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini tetap relevan dan mendesak untuk diperjuangkan secara berkelanjutan.
Amey (21), salah satu generasi muda yang bekerja sebagai admin di sektor konstruksi, mengaku masih menghadapi tantangan di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki. Ia menilai perempuan masih kerap dipandang sebelah mata.
“Kadang masih ada anggapan perempuan itu tidak kuat atau tidak paham teknis. Padahal kami juga mampu, hanya butuh kesempatan yang sama,” ujarnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak ruang terbuka bagi perempuan untuk berkembang tanpa diskriminasi. “Harapan saya, perempuan bisa diberi kepercayaan lebih, baik dalam pekerjaan maupun pendidikan. Jangan lagi ada batasan hanya karena gender,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Nurul (31), seorang driver ojek online yang tinggal di Pedurungan. Sebagai ibu dari satu anak, ia harus membagi waktu antara bekerja dan mengurus keluarga.
“Kerja di jalan itu tidak mudah, apalagi sebagai perempuan. Tapi saya ingin mandiri dan bisa membantu ekonomi keluarga,” kata Nurul.
Menurutnya, semangat Kartini tercermin dalam keberanian perempuan untuk tetap bertahan dan berjuang di tengah berbagai keterbatasan. “Saya berharap ke depan perempuan seperti saya lebih dihargai, dilindungi, dan punya akses yang lebih baik, baik dari segi penghasilan maupun keamanan kerja,” ungkapnya.
Berbagai kalangan pun mendorong agar peringatan Hari Kartini tidak berhenti pada simbol dan perayaan, tetapi diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak pada perempuan. Edukasi publik, penguatan perlindungan hukum, serta pemberdayaan ekonomi perempuan dinilai menjadi langkah strategis untuk melanjutkan cita-cita Kartini.
Hari ini, semangat Kartini tercermin dalam keberanian perempuan Indonesia yang terus bersuara, berkarya, dan mengambil peran kepemimpinan di berbagai bidang.
Kartini masa kini adalah mereka yang tidak lagi diam, tetapi bergerak mendorong perubahan menuju keadilan dan kesetaraan.


