Sekda Jateng: Harus Bergerak Bersama Untuk Menurunkan Stunting

SEMARANG – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno terus mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kolaborasi, koordinasi dan sinergi dalam upaya melakukan percepatan penurunan stunting dan penanganan kemiskinan dan stunting.

Semua harus bersama-sama atau tidak berjalan sendiri-sendiri, dalam melaksanakan program pemerintah.

“Biasanya Dinas Kesehatan mengurus stunting di salah satu desa, kemudian Dinas Pendidikan juga mengurusi anak putus sekolah, Dinas Sosial dan Dispermasdes juga datang mengurus kemiskinan. Semua berjalan sendiri-sendiri, padahal fokusnya satu, sehingga ini harus kolaborasi agar semua permasalahan bisa kita atasi,” ujar sekda, di sela pembukaan Forum Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Provinsi Jateng, di Hotel Novotel, Selasa (14/3).

Menurutnya, dengan koordinasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan, berbagai persoalan yang terkait dengan kemiskinan, termasuk penanganan stunting, akan lebih efektif.

Baca Juga:  Polda Jateng Gelar Bazaar Pasar Murah di Puncak HUT Bhayangkara Ke 78

Sumarno mengibaratkan sapu lidi, kalau hanya terdiri dari satu batang lidi akan mudah patah dan tidak bisa untuk menyapu sampah, tetapi jika banyak lidi digabung maka akan menjadi kuat.

“Sama dengan kita. Kalau dilakukan secara kolaboratif atau bareng-bareng, insyaallah bisa lebih koprehensif dan berjalan lebih cepat,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, tidak kalah penting dalam penanganan kemiskinan adalah basis data yang akurat. Apabila data yang digunakan valid dan akurat, maka berbagai program penanggulangan kemiskinan, stunting, anak putus sekolah, akan bisa menjangkau serta mengintervensi sasaran dengan tepat.

Data kemiskinan yang akurat, di antaranya menyangkut stunting, kondisi desa, tingkat sumber daya manusia, dan sebagainya. Sehingga apabila ada yang membutuhkan data kemiskinan di suatu desa, maka bisa diketahui dengan cepat jumlah warga miskin di desa yang bersangkutan, kondisi ekonomi, alamat lengkap, sekaligus foto kondisi rumah warga miskin.

Baca Juga:  PDIP Kota Semarang Siapkan 50 Bacaleg Untuk Pemilu 2024

“Kita selalu problemnya data. Kita sudah mau mengintervensi dan pemerintah sudah menganggarkan, tetapi begitu dieksekusi di lapangan, diverifikasi tidak masuk kriteria menerima bantuan. Ini sangat sayang,” ujarnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!