Profesor Pulang Kampung: Saatnya Brebes Dibangun dengan Ilmu, Bukan Sekadar Wacana
Oleh : Putera
SEMARANG[Berlianmedia] – Momentum Halal Bi Halal yang digelar Forum Komunikasi Guru Besar dan Dosen Putera Puteri Brebes bersama Pemerintah Daerah Brebes bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Pertemuan yang menghadirkan puluhan profesor dan ratusan dosen asal Brebes tersebut sejatinya menjadi sinyal penting: Brebes memiliki modal intelektual besar yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan daerah.
Kehadiran para akademisi yang tersebar di berbagai perguruan tinggi nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Brebes tidak kekurangan sumber daya manusia unggul. Justru sebaliknya, Brebes memiliki “bank gagasan” yang sangat kaya. Persoalannya bukan pada ketersediaan ide, melainkan pada bagaimana ide tersebut diintegrasikan dalam kebijakan publik yang konkret dan berkelanjutan.
Tema “Merajut Ukhuwah, Membangun Brebes dengan Cinta” menjadi refleksi bahwa pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan anggaran dan program, tetapi juga kebersamaan serta kolaborasi lintas sektor. Akademisi memiliki peran strategis dalam menyediakan kajian berbasis data, analisis ilmiah, dan rekomendasi kebijakan yang terukur. Pemerintah daerah di sisi lain memiliki kewenangan dan instrumen untuk mengeksekusi gagasan tersebut menjadi program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Selama ini, salah satu tantangan pembangunan daerah adalah minimnya sinergi antara dunia akademik dan birokrasi. Banyak hasil penelitian berakhir di rak perpustakaan, sementara pemerintah daerah kerap menjalankan program tanpa dukungan kajian akademis yang memadai. Padahal, kolaborasi keduanya dapat melahirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berkelanjutan.
Brebes sendiri menghadapi berbagai tantangan klasik, mulai dari persoalan infrastruktur, penguatan ekonomi lokal, pengelolaan lingkungan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan hulu-hilir yang komprehensif, sebagaimana disampaikan dalam forum tersebut. Di sinilah kontribusi para profesor dan dosen menjadi sangat relevan, karena mereka memiliki kapasitas untuk menyusun roadmap pembangunan berbasis riset.
Namun, forum seperti ini tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Akan menjadi sia-sia jika semangat kolaborasi hanya muncul saat pertemuan, lalu meredup tanpa tindak lanjut konkret. Pemerintah daerah perlu membentuk mekanisme resmi, misalnya forum advisory akademik atau tim kajian strategis yang secara rutin memberikan masukan terhadap kebijakan daerah. Dengan demikian, sumbangsih pemikiran para akademisi dapat terinstitusionalisasi, bukan sekadar bersifat insidental.
Selain itu, para akademisi juga perlu mendorong implementasi gagasan yang aplikatif dan mudah diadopsi oleh pemerintah daerah. Bahasa ilmiah harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang sederhana, realistis, dan sesuai dengan kapasitas fiskal daerah. Kolaborasi yang ideal adalah ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan riil masyarakat.
Semangat “Connectivity, Synergy, and Collaboration” yang diusung dalam kegiatan tersebut harus menjadi komitmen bersama. Connectivity berarti membangun jaringan yang berkelanjutan antara akademisi dan pemerintah. Synergy berarti menyatukan potensi yang ada agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Collaboration berarti melahirkan program nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Brebes.
Momentum profesor pulang kampung ini seharusnya menjadi titik awal transformasi. Brebes tidak hanya dikenal karena potensi lokalnya, tetapi juga karena kekuatan intelektual putra-putri daerahnya. Jika kolaborasi ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin Brebes dapat menjadi contoh daerah yang mampu memanfaatkan kekuatan akademik sebagai motor pembangunan.
Pada akhirnya, keberhasilan forum ini akan diukur bukan dari jumlah profesor yang hadir, melainkan dari seberapa banyak gagasan yang benar-benar diimplementasikan. Brebes tidak membutuhkan sekadar diskusi, tetapi aksi nyata. Karena ketika ilmu pengetahuan benar-benar menjadi dasar kebijakan, pembangunan daerah tidak lagi berjalan berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan kepastian.
Inilah saatnya Brebes dibangun dengan ilmu, bukan sekadar wacana.


