“Menjadi lebih baik” Bukan Sekadar Slogan Motivasi, Melainkan Bentuk Self Affirmation
SEMARANG [Berlianmedia]- Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompetitif, kebutuhan manusia untuk diakui dan dihargai, menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan psikologis dan relasi sosial yang sehat.
Pengakuan atau validasi tidak sekadar pujian, melainkan bentuk positive reinforcement, yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri serta memperkuat keyakinan, bahwa setiap manusia memiliki potensi kebaikan dalam dirinya.
Dalam kajian filsafat klasik, gagasan mengenai kecenderungan manusia untuk berbuat baik, telah lama menjadi perdebatan antara Plato dan muridnya, Aristoteles.
Sang Guru Plato memandang, bahwa kebaikan merupakan pengetahuan bawaan (innate knowledge). Menurutnya, manusia pada dasarnya memiliki kesadaran akan “Ide Kebaikan” yang hidup dalam rasionalitas dan jiwa manusia.
Berbeda dengan gurunya, Sang Murid Aristoteles menilai, bahwa kebaikan bukan semata bawaan lahir, melainkan sesuatu yang dibentuk melalui kebiasaan dan tindakan nyata. Dalam pandangannya, karakter baik lahir dari proses panjang latihan moral, pengalaman dan tindakan yang terus diulang hingga menjadi kebiasaan.
Perdebatan dua filsuf besar tersebut, masih relevan dalam kehidupan modern. Di tengah tekanan sosial dan budaya pencapaian yang sering memicu rasa tidak cukup, masyarakat diingatkan untuk tetap memiliki growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Setiap individu diyakini memiliki ruang, untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, tanpa harus terjebak dalam tuntutan kesempurnaan.
Prinsip ini juga menjadi pengingat penting untuk menghindari toxic positivity, yakni sikap memaksakan diri agar selalu terlihat kuat, bahagia dan sempurna, sambil menolak mengakui kesulitan yang sedang dialami. Pendekatan yang lebih sehat adalah menerima kondisi diri saat ini sebagai sesuatu yang “sudah baik”, sembari tetap membuka ruang untuk terus bertumbuh dan memperbaiki diri.
Dalam perspektif edukasi advokasi sosial, pemahaman tentang validasi, pertumbuhan diri dan penghargaan terhadap proses menjadi penting, untuk membangun masyarakat yang lebih empatik dan manusiawi. Sebab, perubahan sosial tidak hanya dimulai dari kritik terhadap sistem, tetapi juga dari kesadaran individu untuk terus belajar menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
“Menjadi lebih baik” pada akhirnya bukan sekadar slogan motivasi, melainkan bentuk self affirmation atau penguatan diri agar manusia tetap memiliki harapan, daya juang dan keberanian untuk bertumbuh, di tengah berbagai dinamika kehidupan.


