Kalender Jawa/Nusantara Dinilai Kaya Filosofi, Penggiat Budaya Ajak Masyarakat Kembali Mengenal Warisan Leluhur

SEMARANG [Berlianmedia]— Kalender Jawa atau Kalender Nusantara dinilai bukan sekadar alat penanggalan, melainkan bagian dari warisan pengetahuan leluhur yang sarat nilai filosofi, budaya dan pandangan hidup masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu.

Sejumlah pegiat budaya dan pemerhati tradisi menilai, kalender tradisional Nusantara memiliki keunikan tersendiri, karena memadukan unsur mikrokosmos dan makrokosmos. Artinya, penanggalan tidak hanya digunakan untuk menghitung waktu, tetapi juga menjadi pedoman dalam membaca hubungan manusia dengan alam, lingkungan, spiritualitas, hingga tata kehidupan sosial masyarakat.

Dalam tradisi Jawa misalnya, dikenal dengan adanya sistem weton, pasaran, pranata mangsa, hingga perhitungan hari baik, yang selama ratusan tahun digunakan dalam pertanian, pelayaran, pembangunan rumah, hingga kegiatan adat dan budaya. Nilai-nilai tersebut dianggap mencerminkan kearifan lokal yang lahir dari pengalaman panjang nenek moyang dalam memahami alam semesta.

Baca Juga:  Gubernur Ahmad Luthfi Minta Bupati dan Wali Kota Siapkan Kawasan Industri atau Kawasan Ekonomi

Pengamat budaya menilai, di tengah arus modernisasi, masyarakat perlu kembali diedukasi mengenai pentingnya menjaga identitas budaya bangsa, termasuk sistem kalender tradisional. Sebab, banyak generasi muda yang mulai asing terhadap warisan leluhur sendiri, sementara budaya luar justru lebih dikenal dan diagungkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut mereka, upaya pelestarian kalender Nusantara bukan berarti menolak perkembangan zaman maupun kalender internasional, yang digunakan secara global. Namun, lebih kepada menjaga keseimbangan antara modernitas dan identitas budaya, agar akar peradaban bangsa tidak hilang.

“Kalender Nusantara mengandung pengetahuan astronomi, pertanian, sosial, hingga filosofi kehidupan. Ini bukan sekadar hitungan tanggal, tetapi bagian dari peradaban,” ujar Sidoguno, salah satu pegiat budaya di Semarang, Jum’at (15/5).

Melalui pendekatan edukasi dan advokasi budaya, masyarakat diharapkan semakin memahami, bahwa pelestarian tradisi bukanlah bentuk kemunduran, melainkan langkah menjaga jati diri bangsa di tengah perubahan zaman.

Baca Juga:  KPU Kabupaten Magelang Masih Butuhkan 30.849 KPPS

Pemerhati budaya juga mendorong, agar pengenalan Kalender Jawa dan sistem penanggalan Nusantara dapat kembali diperkuat melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, diskusi publik, hingga literasi digital, agar generasi muda lebih mengenal kekayaan intelektual leluhurnya sendiri.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!