Jelang Ramadan, Pemprov Jateng Pastikan Harga Sembako Stabil dan Pasokan Aman

SEMARANG[Berlianmedia] – Menjaga keterjangkauan sembako bukan sekadar soal harga, tetapi menyangkut kepastian hidup masyarakat.
Di tengah dinamika ekonomi, stabilitas pasokan dan harga bahan pokok menjadi kunci agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi serta daya beli masyarakat tetap terjaga, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Hal tersebut mengemuka dalam Prime Topic Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah bertema “Menjaga Keterjangkauan Sembako” yang digelar di Ruang Saripetodjo FrontOne HK Kesambi, Semarang, Jumat (13/2).

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Jawa Tengah, Noval Nixmamara, ST., M.Si., menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan di sejumlah daerah, harga bahan pokok secara umum masih relatif stabil.

“Dari hasil pantauan di beberapa wilayah, seperti di Klaten, harga sembako masih berada di kisaran harga acuan. Memang ada komoditas seperti cabai dan bawang putih yang fluktuatif menjelang puasa, namun secara umum kenaikannya belum signifikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika dilihat dari Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Patokan (HP), kondisi masih terkendali dan pasokan di lapangan relatif lancar.

Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai komoditas strategis seperti beras dan minyak goreng agar tetap terjangkau masyarakat.

Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sri Hartini

Menurutnya, pemerintah pusat melalui regulasi Permendag Nomor 43 Tahun 2025 telah menugaskan Perum Bulog dan BUMN Pangan untuk mendistribusikan bahan pokok langsung ke pengecer.

“Bulog menjual ke pengecer, kemudian pengecer wajib menjual sesuai HET.

Di Jawa Tengah, kami sudah berkoordinasi intensif dengan Bulog. Harapannya, hingga Ramadan dan Idulfitri, pasokan tetap aman dan harga terkendali,” tegasnya.

Selain itu, regulasi tersebut juga mengatur kewajiban produsen minyak goreng untuk menyalurkan 35 persen produksinya ke dalam negeri guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk memastikan stabilitas 14 bahan pokok, Disperindag Jateng melakukan pemantauan harian melalui sistem SP2KP yang disiapkan Kemendag. Data harga diperbarui secara rutin oleh kabupaten/kota guna mengantisipasi lonjakan harga sedini mungkin.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Semarang, Dr. Haerudin, menilai bahwa secara empiris harga sembako menjelang Ramadan dan Idulfitri cenderung berfluktuasi dan sering kali sulit dikendalikan.

“Secara logika pasar, jika suplai mencukupi sesuai permintaan, seharusnya tidak terjadi gejolak harga. Artinya, ada mekanisme yang perlu dievaluasi. Pemerintah sudah melakukan intervensi suplai, tetapi harga masih naik. Ini yang harus diperbaiki,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam pola konsumsi selama Ramadan agar tidak memicu lonjakan permintaan yang berlebihan.

Pada kesempatan yang sama,
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Ir. Diyah Lukisari, M.Si., menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjaga ketersediaan pangan strategis.

“Kami memastikan stok pangan dalam kondisi cukup. Sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, distributor, dan pelaku usaha terus diperkuat agar tidak terjadi kelangkaan maupun spekulasi harga,” ujarnya.

Dengan langkah pengawasan intensif, regulasi yang tegas, serta kolaborasi antarinstansi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis stabilitas harga dan pasokan sembako dapat terjaga hingga Hari Raya Idulfitri, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan kebutuhan pokok tetap terpenuhi.

 

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!