Doa Agar Tidak Malas Tarawih
SEMARANG[Berlianmedia] – Ramadan selalu menghadirkan peluang emas bagi setiap muslim untuk memperbaiki kualitas ibadah, namun rasa malas sering diam diam menyelinap ke dalam hati. Karena itu, doa dan kesadaran tentang ketergantungan kita kepada Allah menjadi kunci agar langkah menuju shalat tarawih tetap ringan dan penuh harap sepanjang malam bulan yang penuh berkah ini bagi setiap hamba yang mendambakan ampunan dan ridha Ilahi.
Seorang hamba pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah. Ia tidak mampu secara mandiri mewujudkan kepentingannya, tidak pula sanggup menolak bahaya yang mengancam dirinya, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan spiritual seorang muslim. Ketika rasa malas datang, terutama dalam ibadah malam seperti shalat tarawih, maka yang pertama perlu dibangkitkan bukan sekadar motivasi sesaat, melainkan kesadaran tauhid bahwa kekuatan sejati hanya berasal dari Allah.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan keterbatasan manusia dan keluasan kuasa-Nya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Ayat ini menanamkan kesadaran mendalam bahwa rasa malas dalam ibadah bukan sekadar persoalan fisik, tetapi juga tanda bahwa hati perlu kembali disandarkan kepada Allah. Semakin seseorang merasa butuh kepada-Nya, semakin ringan langkahnya menuju ketaatan.
Rasulullah ﷺ telah mengajarkan doa yang sangat relevan untuk mengatasi kelemahan dan kemalasan. Doa itu berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
“Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal ‘ajzi wal kasal.”
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas.” (HR. Muslim)
Doa singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Nabi tidak hanya mengajarkan usaha lahiriah, tetapi juga perlindungan batin. Karena malas bukan semata persoalan tubuh yang lelah, melainkan juga kondisi jiwa yang melemah.
Ketika seorang muslim rutin membaca doa ini dengan penuh kesadaran, ia sedang mengakui dua hal penting: pertama, dirinya memang lemah; kedua, Allah adalah satu satunya tempat bergantung. Dari sinilah tumbuh kekuatan spiritual yang mendorong kaki melangkah ke masjid atau berdiri di sajadah pada malam malam Ramadan. Tarawih pun tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan ruhani.
Namun doa tidak boleh berdiri sendiri tanpa ikhtiar. Para ulama menasihatkan beberapa adab agar doa ini benar benar berbuah. Di antaranya adalah menjaga niat sebelum malam tiba, mengurangi aktivitas yang melelahkan menjelang tarawih, serta menghadirkan kesadaran tentang besarnya pahala qiyam Ramadan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa mendirikan (shalat malam) pada bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini seharusnya menjadi bahan bakar ruhani yang kuat. Betapa tidak, setiap rakaat tarawih sejatinya adalah peluang penghapusan dosa.
Maka ketika rasa malas mulai berbisik, ingatlah bahwa itu adalah ujian yang wajar dalam perjalanan seorang hamba. Jangan putus asa. Segera lawan dengan wudhu, doa, dan langkah kecil menuju ketaatan. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting adalah konsistensi dan kejujuran hati di hadapan Allah.
Pada akhirnya, tarawih bukan sekadar rangkaian gerakan malam hari. Ia adalah latihan ketundukan, pengakuan kelemahan, dan bukti cinta kepada Allah. Siapa yang bersandar kepada-Nya, niscaya akan ditolong. Siapa yang jujur memohon kekuatan, niscaya akan dikuatkan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba hamba yang ringan melangkah menuju tarawih, tekun dalam ibadah, dan pulang dari Ramadan dengan hati yang bersih serta dosa yang terampuni.



One Comment