Masjid Ukhuwah Islamiyah Teguhkan Harmoni di Tengah Potensi Beda Awal Ramadhan
SEMARANG [Berlianmedia] – Pertemuan Tahun Baru Imlek dengan 1 Ramadhan 1447 H menjadi momentum bersejarah yang dimaknai sebagai tonggak mempererat persaudaraan dan memperkuat kebersamaan dalam bingkai kebangsaan.
Hal tersebut disampaikan Ustad Iskandar Zhange Pao, Ketua DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, saat memberikan tausiyah dalam kajian rutin ahad pagi terkait Imlek Bertepatan 1 Ramadhan 1447 H yang digelar di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Jalan Taman Tirto Agung, Tembalang, Banyumanik, Kota Semarang, Ahad (15/2).
“Momentum ini adalah pengingat bahwa persaudaraan dibangun atas dasar niat yang tulus dan kesucian hati. Tidak hanya sebagai sesama pemeluk Islam, tetapi juga sebagai sesama warga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sesama insan ciptaan Allah SWT,” ujarnya.
Menurutnya, Imlek mengajarkan rasa syukur dan optimisme, sedangkan Ramadhan mengajarkan kesabaran serta peningkatan kualitas diri. Ketika keduanya bertemu dalam satu waktu, yang lahir adalah semangat persatuan, refleksi diri, serta dorongan untuk memperbaiki akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ketika keduanya bertemu, maka yang lahir adalah semangat persatuan dan perbaikan diri,” tegasnya.
Usai acara, Sekretaris Yayasan Ukhuwah Islamiyah Kota Semarang, Dr. H. AM Juma’i, SE., MM., menegaskan bahwa terdapat potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 H pada tahun 2026.
“Untuk tahun 2026 memang ada potensi perbedaan awal Ramadhan.
Ada yang memulai 18 Februari dan ada juga 19 Februari. Namun untuk Idul Fitri masih menunggu hasil rukyatul hilal,” jelasnya.

Menurutnya, jika di akhir Ramadhan perhitungan berlangsung selama 29 hari, maka sangat mungkin terjadi kesamaan penetapan Idul Fitri di antara berbagai organisasi kemasyarakatan Islam.
“Jadi ada potensi beda di awal Ramadhan, namun bisa jadi sama di akhirnya,” tambahnya.
AM Juma’i juga menuturkan bahwa Masjid Ukhuwah Islamiyah memiliki keunikan dibandingkan masjid lainnya karena bersifat terbuka dan inklusif terhadap berbagai organisasi Islam.
Beragam elemen seperti NU, Muhammadiyah, LDII, Salafi, Al Irsyad hingga PITI terakomodasi dalam aktivitas dakwah dan kegiatan keagamaan di masjid tersebut.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, ketika terjadi perbedaan penetapan Idul Fitri maupun Idul Adha, pihak masjid memfasilitasi pelaksanaan salat Id sebanyak dua kali sebagai bentuk penghormatan terhadap perbedaan ijtihad.
“Kami memfasilitasi keduanya secara adil, termasuk sarana prasarana dan pengamanan. Pengamanannya bahkan dilakukan secara silang sebagai simbol kebersamaan,” ungkapnya.
Jika pelaksanaan mengikuti keputusan Muhammadiyah, pengamanan dilakukan oleh Banser dari NU.
Sebaliknya, jika mengikuti keputusan NU, pengamanan dilakukan oleh Kokam Muhammadiyah. Pola tersebut diterapkan sebagai wujud nyata harmoni dan ukhuwah dalam satu rumah ibadah.
Ia berharap keberadaan berbagai komunitas, termasuk PITI yang juga menjadi bagian dari binaan Masjid Ukhuwah Islamiyah El Azhar Tembalang, semakin memperkuat semangat ukhuwah Islamiyah.
Masjid tersebut juga membuka ruang bagi organisasi atau lembaga yang belum memiliki sekretariat maupun area dakwah untuk memanfaatkan fasilitas yang ada.
Momentum pertemuan Imlek dan Ramadhan ini menjadi simbol bahwa keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirajut dalam persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan demi Indonesia yang harmonis.


