Poin Perdamaian Hamas – Israel: Antara Optimisme dan Skeptisisme

SEMARANG[Berlianmedia] – Di tengah reruntuhan Gaza, di antara gedung-gedung yang telah menjadi abu dan jalanan yang tak lagi bisa dikenali, kabar itu datang Hamas dan Israel dikabarkan sepakat menandatangani kesepakatan awal perdamaian.

Kabar itu menyebar cepat, dari ruang-ruang diplomasi hingga gubuk pengungsian. Bagi sebagian orang, ia adalah secercah cahaya di ujung lorong gelap yang tak berkesudahan. Bagi sebagian lainnya, ia tak lebih dari ilusi politik yang bisa sirna secepat dentum mortir berikutnya.

Namun satu hal pasti: dunia menoleh. Ada yang berdoa, ada yang curiga, dan ada yang sekadar menunggu apakah kali ini perdamaian benar-benar mungkin?

Sejak pecahnya konflik pada 2023, lebih dari dua tahun Gaza hidup dalam reruntuhan dan duka.
Anak-anak tumbuh tanpa sekolah, rumah sakit kehabisan obat, dan suara pesawat tempur menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Kini, dengan kesepakatan baru ini, muncul harapan bahwa penderitaan itu bisa berhenti setidaknya untuk sementara.
Poin-poin kesepakatan memang terdengar menjanjikan: pembebasan sandera, penarikan pasukan, pembukaan jalur bantuan, dan pertukaran tahanan. Tapi di balik kata-kata itu tersimpan pertanyaan besar: apakah keduanya sungguh siap berdamai?

Baca Juga:  Anggota Dewan Dukung Pernyataan Ketua FKSB Kota Semarang untuk Ungkap Tuntas Oknum Ormas

Di kamp pengungsian Rafah, seorang ibu mungkin menatap anaknya dan berkata,
“Lihat, nak, dunia sedang bicara tentang damai.”
Bagi mereka, perdamaian bukan sekadar istilah diplomatik, tapi tiket untuk kembali hidup untuk bisa memasak tanpa takut bom, untuk tidur tanpa mendengar sirene.

Bagi masyarakat internasional, kesepakatan ini adalah pintu masuk bagi konvoi bantuan kemanusiaan yang selama ini tertahan.
Bagi Israel, ia menjadi peluang untuk menurunkan tekanan global yang makin besar, sementara bagi Hamas, kesempatan untuk memperbaiki legitimasi politik yang terkoyak.

Optimisme, betapapun kecilnya, adalah kekuatan yang membuat manusia bertahan di tengah reruntuhan.

Namun di sisi lain, skeptisisme menebal.
Banyak yang masih mengingat betapa cepatnya perjanjian Oslo 1993 hancur oleh pelanggaran di lapangan. Banyak pula yang percaya bahwa konflik ini sudah terlalu dalam untuk disembuhkan oleh satu perjanjian saja.

Israel menuntut Hamas melucuti senjata — tuntutan yang bagi Hamas sama saja dengan menyerahkan leher kepada lawan.
Sementara Hamas khawatir bahwa penarikan pasukan Israel hanya bersifat sementara, sekadar strategi jeda sebelum serangan berikutnya.

Baca Juga:  Ganjar Menginap di Rumah Warga Cianjur, Disambut Antusias dan Diajak Mayoran

Dan di atas semua itu, bayangan kepentingan global menggantung.
Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara Arab memiliki kepentingan masing-masing.
Maka tak heran, perdamaian sering kali bukan ditentukan oleh mereka yang berperang, tapi oleh mereka yang duduk di luar medan perang.

Namun meski dunia pernah dikecewakan berkali-kali, setiap kesepakatan baru tetap menumbuhkan harapan sekecil apa pun.
Karena setiap gencatan senjata, walau hanya bertahan seminggu, berarti seminggu tanpa anak-anak tewas, seminggu tanpa ibu kehilangan rumah, seminggu di mana manusia bisa bernapas.

Mungkin inilah cara dunia belajar: perlahan, dengan luka-luka yang tak kunjung kering, tapi dengan tekad yang tak padam.

Dari kota Semarang yang damai, kita menyaksikan kabar itu dari layar ponsel, jauh dari suara ledakan dan bau mesiu. Tapi di balik jarak itu, ada tanggung jawab moral yang tak boleh kita lupakan: untuk tetap berpihak pada kemanusiaan.

Baca Juga:  Teknologi IoT dari Agree Bantu Budi Daya Petani Serai Wangi Lebih Efisien

Indonesia, sejak awal berdirinya, menolak segala bentuk penjajahan. Maka dukungan moral terhadap rakyat Palestina bukanlah sekadar politik luar negeri, tetapi bagian dari nurani bangsa.

Perdamaian mungkin belum tiba sepenuhnya. Tapi setiap langkah menuju arah itu sekecil apa pun tetap berarti.
Sebab, seperti kata penyair Arab kuno, “Damai bukan sekadar tiadanya perang, tapi hadirnya keadilan di antara manusia.”

Kesepakatan Hamas – Israel ini mungkin hanya awal. Ia bisa menjadi fondasi perdamaian, atau sekadar jeda sebelum konflik berikutnya.
Namun, di dunia yang semakin lelah oleh kekerasan, setiap upaya untuk berhenti saling membunuh layak disambut dengan syukur.

Skeptisisme boleh ada, tapi jangan sampai membunuh harapan.
Karena di setiap batu runtuh Gaza, di setiap nyala lilin kecil di pengungsian, ada doa yang tak pernah padam:
semoga suatu hari nanti, damai benar-benar datang, bukan sebagai perjanjian, tapi sebagai kenyataan. (M.Taufiq)

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!