Endin Soefihara Ungkap Sejarah Perkembangan Banser, Dulu Dianggap Organisasi Kelas Dua dan Tak Diminati Pemuda Ansor

JAKARTA [Berlianmedia]- Senior Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Endin AJ Soefihara mengungkapkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) terus berkembang, hingga kini diminati kalangan akademisi.

Aktivis GP Ansor sejak era kepemimpinan Slamet Effendy Yusuf dan Muhammad Iqbal Assegaf ini mengungkapkan perbedaan Banser dahulu dan sekarang yang kian progresif.

“Banser sekarang ini luar biasa perkembangannya. Era-era tahun 1970an kurang diminati oleh pemuda-pemuda. Bahkan oleh Ansor sendiri Banser dianggap organisasi kelas dua,” ujar Endin saat diwawancarai seusai menjadi narasumber Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) angkatan VII, di Pusdiklat Bimas Lemdiklat Polri, Kamis (14/5) malam.

Dahulu, lanjutnya, meski sudah jelas sebagai badan dari GP Ansor, namun para pemuda lebih memilih hanya menjadi Ansor dan memandang Banser sebelah mata atau seperti lucu-lucuan.

Baca Juga:  Prajurit Yonif 410/Alugoro Borong Juara di Triathlon Piala Panglima TNI 2024

“Tapi di era 1990an kemari, Banser justru diminati luar biasa. Banyak orang mengenal Ansor justru mengenal Bansernya,” urainya.

Selain itu, Kepala Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) ini menilai gerakan Banser saat ini lebih edukatif, tidak sebatas pada kelompok yang identik dengan baris-berbaris.

“Banser yang sekarang ini lebih educated. Jadi anak-anak yang berpendidikan, insan-insan akademis banyak masuk Banser,” paparnya.

Ia bilang, GP Ansor saat ini mencetak Banser tidak hanya menjadi gerombolan semimiliter atau kelompok pemuda yang identik pada kegiatan baris-berbaris. Lebih dari itu, pendidikan Banser telah berkembang menjadi lebih berpendidikan, lebih spiritualis, dan jadi bagian yang sangat penting.

“Boleh dibilang mukanya Ansor ya Banser. Elit Banser ya elit Ansor, dan pernah mengikuti pendidikan Banser hingga jadi pimpinan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN Undaris dan UNW Diminta Ikut Bantu Penanganan Tengkes

Pendidikan Banser berkembang dengan materi-materi kepemimpinan, memiliki fisik kuat untuk mengikuti orientasi lapangan semimiliter, kemampuan intelijen, dan sebagainya.

Dalam kaderisasi, mantan DPR RI ini menilai ada tahapan yang lebih jelas. Mulai dari pendidikan dan pelatihan tingkat dasar, latihan kesatuan khusus hingga Susbanpim.

Menurut dia, pendidikan kebanseran jangan dianggap militerisasi pemuda. Justru lebih lengkap karena mengajarkan pengelolaan pemerintahan di bidang militer, intelijen, dan birokrasi.

“Itu menjadi bekal kalau jadi pimpinan Ansor nantinya,” pungkasnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!