Menyikapi RPP PMM Berbasis Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka
SEMARANG [Berlianmerdeka] – Transformasi pendidikan nasional tengah bergerak menuju pendekatan yang lebih humanis dan adaptif melalui Kurikulum Merdeka. Salah satu elemen penting dalam implementasi kurikulum ini adalah penggunaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang mengusung pendekatan Deep Learning atau pembelajaran mendalam.
Istilah deep learning dalam konteks ini bukan mengacu pada teknologi kecerdasan buatan, melainkan pada pembelajaran yang mendorong pemahaman bermakna, keterampilan berpikir kritis, dan refleksi mendalam pada pengalaman belajar. Hal ini merupakan lompatan penting dari paradigma sebelumnya yang cenderung berorientasi pada hafalan dan pencapaian nilai semata.
Namun, di tengah semangat pembaruan tersebut, muncul sejumlah catatan kritis dari kalangan pendidik dan pemerhati pendidikan. Perlu kehati-hatian dalam menyikapi arah kebijakan ini, agar tidak hanya mengganti istilah dan format, namun benar-benar menyentuh inti perubahan: transformatif, kontekstual, dan membebaskan.
Platform Merdeka Mengajar telah menyediakan berbagai template RPP yang berbasis pembelajaran berdiferensiasi dan student-centered. Tujuan utamanya adalah mendorong guru untuk lebih fleksibel, kreatif, dan responsif terhadap masyarakat kebutuhan murid.
Namun dalam praktiknya, tak sedikit guru yang masih gagap dalam memahami esensi RPP berbasis deep learning. Sebagian besar masih terjebak pada aspek administratif, sekadar mengisi kolom atau mengikuti format, bukan membangun desain pembelajaran yang reflektif dan transformatif.
Jika RPP hanya menjadi rutinitas mengisi form digital tanpa pemaknaan mendalam, maka semangat Merdeka Belajar hanya akan berhenti sebagai jargon.
Deep Learning dalam konteks pendidikan menekankan pada pembelajaran bermakna—dimana peserta didik tidak hanya tahu “apa”, tetapi juga mengerti “mengapa” dan “bagaimana”. Guru berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang dialog, eksplorasi, dan kolaborasi.
Kurikulum Merdeka mendorong agar materi ajar dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, menggugah empati, dan menumbuhkan kesadaran kritis siswa terhadap lingkungannya. RPP seharusnya bukan hanya daftar kegiatan, melainkan naskah rencana pembebasan potensi manusia.
Beberapa tantangan utama dalam penerapan RPP PMM berbasis Deep Learning antara lain:
1. Literasi Kurikulum Guru yang Masih Rendah
Banyak guru belum sepenuhnya memahami filosofi Kurikulum Merdeka dan prinsip deep learning. Akibatnya, RPP yang dibuat masih bersifat teknis dan kurang reflektif.
2. Keterbatasan Pelatihan yang Kontekstual
Pelatihan implementasi PMM dan RPP digital masih terkesan umum, belum menyentuh kebutuhan khas satuan pendidikan, terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
3. Keterbatasan Infrastruktur Digital
Masih banyak sekolah yang kesulitan mengakses PMM secara optimal karena keterbatasan jaringan dan perangkat.
4. Budaya Sekolah yang Belum Berubah
Jika kepala sekolah dan rekan sejawat belum satu frekuensi dalam perubahan paradigma ini, guru akan merasa sendirian menjalankan Kurikulum Merdeka.
Untuk menyukseskan RPP PMM berbasis Deep Learning, perlu dilakukan:
Peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan, bukan hanya pelatihan teknis, tetapi juga penguatan filosofi dan pendekatan reflektif dalam pembelajaran.
Kolaborasi antarguru dalam komunitas belajar (KGB) di sekolah maupun lintas wilayah, agar terbentuk kultur saling menguatkan dalam menerjemahkan kurikulum ke dalam praktik kelas.
Evaluasi dan pendampingan secara kontekstual oleh pengawas atau dinas pendidikan, agar tidak hanya bersifat administratif namun mendorong pembelajaran yang otentik.
Partisipasi aktif siswa dalam proses perencanaan dan evaluasi pembelajaran, agar RPP tidak hanya menjadi milik guru, melainkan bagian dari ekosistem belajar bersama.
RPP PMM berbasis deep learning bukan sekadar kebijakan digitalisasi pendidikan, melainkan jalan menuju pendidikan yang membebaskan, seperti yang digagas Ki Hadjar Dewantara. Guru sebagai pendidik dituntut untuk bukan hanya mengajarkan, tapi juga menghidupkan pembelajaran.
Kurikulum Merdeka bukan tujuan, melainkan kendaraan menuju ekosistem pendidikan yang lebih adil, relevan, dan memanusiakan. Maka dari itu, mari kita sikapi dengan penuh refleksi, bukan hanya mengikuti prosedur, tetapi memaknai esensi perubahan.








