Balasan Bagi Yang Rutin Membaca Al-Qur’an

SEMARANG[Berlianmedia] –  Membaca Al-Qur’an bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi jalan hidup seorang mukmin. Orang yang rutin tilawah akan dipelihara hatinya, dilapangkan dadanya, dituntun langkahnya, serta disiapkan kemuliaan di akhirat. Al-Qur’an kelak menjadi sahabat yang membela, memberi syafaat, dan mengangkat derajat pembacanya. Inilah keutamaan besar bagi Shohibul Qur’an yang istiqamah.

Dalam kehidupan seorang muslim, tidak ada bekal yang lebih agung daripada Al-Qur’an. Ia bukan hanya kitab yang dibaca, tetapi petunjuk yang menghidupkan jiwa, menenangkan hati, dan membimbing manusia agar selamat di dunia maupun akhirat. Ketika seseorang membiasakan dirinya membaca Al-Qur’an setiap hari, sebenarnya ia sedang merawat iman, menjaga ruhani, dan mengikatkan dirinya kepada cahaya wahyu yang Allah turunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Maka, siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia, berarti ia sedang mendekatkan diri kepada petunjuk Allah. Sebab Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dibaca di waktu tertentu, melainkan untuk dijadikan cahaya sepanjang kehidupan. Allah juga berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”

(QS. Al-Isra’: 9)

Karena itulah, orang yang rutin membaca Al-Qur’an bukan hanya memperoleh pahala bacaan, tetapi juga memperoleh bimbingan untuk hidup yang lebih lurus, lebih terarah, dan lebih dekat kepada ridha Allah. Rutinitas tilawah bukan perkara sepele. Ia adalah bentuk kesetiaan seorang hamba kepada firman Rabb-nya.

Baca Juga:  Pemkot Semarang Kerahkan Semua Pompa di Berbagai Titik untuk Atasi Genangan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pembela dan pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya. Dalam hadis sahih, beliau bersabda:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”

(HR. Muslim no. 804)

Hadis ini memberi kabar gembira sekaligus motivasi besar. Betapa mulianya seseorang yang menjaga tilawahnya, karena di saat manusia kebingungan mencari pertolongan, Al-Qur’an tampil menjadi saksi yang membela. Syafaat Al-Qur’an bukan untuk orang yang sekadar menyentuh mushaf sesekali, tetapi bagi mereka yang menjadikannya sahabat dalam hidup, yang membacanya, memahaminya, serta berusaha mengamalkannya.

Inilah yang disebut sebagai Shohibul Qur’an. Dalam penjelasan ulama, Shohibul Qur’an bukan sekadar orang yang mampu membaca dengan fasih, tetapi mereka yang terus-menerus menjaga hubungan dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman amal. Sebagaimana disebutkan:

المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ

“Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.”

(Al-Bahr Al-Muhith, 16:353)

Kalimat ini sangat dalam maknanya. Tilawah tanpa amal hanya akan menjadi bacaan di lisan, sedangkan amal tanpa petunjuk wahyu akan mudah tersesat. Maka Shohibul Qur’an adalah manusia yang istiqamah membaca, lalu menundukkan dirinya kepada perintah-perintah Allah yang ada di dalamnya. Ia tidak hanya kagum pada ayat, tetapi tunduk kepada pesan ayat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan kemuliaan luar biasa bagi orang yang rutin membaca Al-Qur’an. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah bersabda:

Baca Juga:  “Tuku Lemah Oleh Omah” Pemprov Jateng Berhasil Kurangi Kemiskinan di Purworejo

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ، فَيَرْضَى عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

“Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat lalu berkata: ‘Wahai Rabb-ku, hiasilah dia.’ Maka orang itu dipakaikan mahkota kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an berkata lagi: ‘Wahai Rabb-ku, tambahkan lagi untuknya.’ Maka ia dipakaikan pakaian kemuliaan. Kemudian Al-Qur’an berkata: ‘Wahai Rabb-ku, ridhoilah dia.’ Maka Allah meridhoinya. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Bacalah dan naiklah.’ Dan setiap ayat yang dibacanya menambah satu kebaikan baginya.”

(HR. At-Tirmidzi)

Bayangkan betapa agung balasan ini. Mahkota kemuliaan, pakaian kehormatan, lalu puncaknya adalah ridha Allah. Dan ridha Allah adalah kemenangan terbesar yang tidak bisa ditukar dengan apa pun. Ini menunjukkan bahwa tilawah yang istiqamah bukan sekadar ibadah ringan, tetapi jalan menuju kemuliaan yang tidak terbayangkan oleh manusia.

 

Dalam ayat lain, Allah memuji orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.”

(QS. Fathir: 29)

Perhatikan bagaimana Allah menyebut tilawah Al-Qur’an sebagai “perdagangan yang tidak rugi”. Ini bukan ungkapan biasa. Karena amal yang terkait Al-Qur’an adalah investasi akhirat yang pasti dibalas, bahkan dilipatgandakan. Tidak ada kerugian dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Yang ada hanyalah keberuntungan, pertolongan, dan kemuliaan.

Baca Juga:  Pemkab Boyolali Serahkan Bantuan Sepeda Motor Untuk Petani

Maka, rutinitas membaca Al-Qur’an sejatinya adalah rutinitas memperbaiki diri. Ia menguatkan kesabaran, menumbuhkan ketakwaan, dan menjaga hati agar tidak mati oleh dosa. Banyak manusia rusak bukan karena kurang ilmu dunia, tetapi karena hatinya jauh dari wahyu. Al-Qur’an hadir untuk menyembuhkan itu semua.

Allah menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Isra’: 82)

Karena itu, ketika seseorang merasa resah, gelisah, mudah marah, atau hidup terasa kosong, sering kali masalahnya bukan pada kurangnya hiburan, tetapi kurangnya kedekatan dengan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah cahaya yang menenteramkan batin, sekaligus pengingat bahwa dunia hanyalah perjalanan singkat menuju akhirat.

Maka mari kita menjadi hamba yang tidak sekadar mengagumi Al-Qur’an, tetapi menjadikannya kebiasaan harian. Tidak perlu menunggu waktu luang, karena justru Al-Qur’anlah yang akan membuat waktu menjadi berkah. Walau hanya beberapa ayat setiap hari, namun istiqamah itu lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi terputus.

Rutin membaca Al-Qur’an berarti sedang membangun hubungan dengan Allah setiap hari. Dan siapa yang dekat dengan Al-Qur’an, insyaAllah akan dekat dengan rahmat Allah. Kelak, Al-Qur’an akan menjadi saksi kebaikan, pembela di hari perhitungan, dan tangga kemuliaan menuju surga.

Mari kita baca Al-Qur’an setiap hari, bukan hanya agar lidah basah dengan ayat-ayat-Nya, tetapi agar hati hidup dengan petunjuk-Nya, dan amal berjalan di atas ridha-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk Shohibul Qur’an yang mulia, yang dibanggakan oleh Al-Qur’an di hadapan Rabb semesta alam. Aamiin.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!