AM Jumai: Sang Dai Komunitas yang Menembus Lorong Gelap dan Gemerlap Kota Semarang

SEMARANG [Berlianmedia]- Kota Semarang dengan segala gemerlap metropolitan dan lorong-lorong sunyinya menjadi medan pengabdian AM Jumai. Lahir di Semarang, 25 November 1978, Jumai tumbuh dari tempaan nilai kemandirian, disiplin dan keberanian mengambil peran sosial sejak usia dini. Jalan hidupnya dibentuk bukan hanya oleh bangku sekolah, tetapi juga oleh pengalaman spiritual dan sosial yang panjang.

Fondasi karakter itu ditempa di Pondok Pesantren Daarul Abroor Air Sugihan, Muara Padang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Selama empat tahun mondok, Jumai tak sekadar mendalami ilmu agama, tetapi juga digembleng mental, keterampilan hidup, dan kepemimpinan di bawah asuhan KH Edy Sunari, B.A. Di pesantren, ia aktif di ORPENDA (Organisasi Pondok Pesantren Daarul Abroor) dan dipercaya mengemban berbagai amanah, mulai dari bagian bahasa, peternakan, koperasi, hingga menjadi asisten pribadi pimpinan pondok. Pengalaman itu membentuk kepekaan sosial dan etos pengabdian yang kelak menjadi napas perjuangannya.

Pendidikan formal ia lanjutkan di SMA Muhammadiyah 2 Mijen, Kota Semarang. Di sinilah aktivisme organisasinya kian menguat. Ia terpilih sebagai Ketua Pimpinan Ranting Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), kemudian dipercaya memimpin Pimpinan Daerah IRM Kota Semarang periode 1996–1998. Konsistensi itu berlanjut hingga dewasa, ketika ia menjabat Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang selama dua periode, 2011–2019.

Secara akademik, AM Jumai menempuh pendidikan berjenjang dan serius. Ia meraih gelar Sarjana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), melanjutkan Magister Manajemen di Universitas Semarang, hingga meraih gelar Doktor dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Saat ini, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIMUS, memadukan dunia akademik dengan dakwah dan gerakan sosial.

Baca Juga:  BPN Jawa Tengah PKS dengan Sekolah Vokasi Undip

Di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, Jumai mengemban amanah strategis. Ia pernah menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Semarang Selatan periode Muktamar ke-47, kemudian dipercaya sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang periode Muktamar ke-48 hingga sekarang. Ia juga menjabat Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Beberapa penghargaan yang diperoleh AM Jumai, menunjukkan kiprah luar biasa Tokoh Dai Komunitas ini tidak hanya di Kota Semarang, namun hingga di tingkat Nasional. Foto : Dok Ist

Di luar Muhammadiyah, kiprahnya menembus sekat-sekat institusi dan komunitas. Ia menjadi inisiator berdirinya Dai Kamtibmas Polrestabes Semarang dan kini menjabat sebagai penasihat. Ia juga aktif sebagai Ketua Bidang Budaya YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah, Ketua Takmir Masjid As-Salam Wonodri, Ketua Takmir Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Sekretaris Yayasan Ukhuwah Islamiyah El Azhar Banyumanik, Pengurus DMI Kota Semarang, Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang Bersatu (FKSB) Kota Semarang, pengasuh pengajian bulanan komunitas di Sasana Tinju Sutan Rambing serta pembina komunitas ojek online Singosari.

Yang membedakan AM Jumai dari dai pada umumnya adalah keberaniannya berdakwah di wilayah-wilayah yang kerap luput dari perhatian. Ia hadir di tengah komunitas waria (Perwaris), mantan preman dan residivis, komunitas hijrah, anak jalanan, komunitas pesisir, mualaf, biker, hingga melakukan pendampingan dan pengawalan terhadap perempuan pekerja seks di kawasan Sunan Kuning dan Gang Bilangu (GBL). Bagi Jumai, dakwah bukanlah penghakiman, melainkan kehadiran, pendampingan, dan keberpihakan.

Baca Juga:  Rumah BUMN Rembang Bantu Armida Promosikan Kain Nusantara

Sasana Tinju Sutan Rambing menjadi salah satu titik penting pergerakan sosialnya. Tempat ini bukan sekadar ruang berkumpul, tetapi menjadi laboratorium ide-ide pemberdayaan masyarakat, baik untuk kebutuhan jasmani maupun rohani, lintas latar belakang sosial.

Menurut AM Jumai, Kota Semarang sebagai kota metropolitan yang majemuk adalah ruang pengabdian bersama. Predikat Kota Harmoni dari Kementerian Agama RI, Kota Toleransi peringkat tiga nasional, serta Kota Inklusif merupakan modal sosial yang harus dirawat. Pembangunan, katanya, tidak boleh hanya menjadi kehendak pemerintah, tetapi harus berbasis kebutuhan masyarakat melalui Musrenbang, dengan masyarakat sebagai aktor utama.

Melalui FKSB Kota Semarang, Jumai mengawal sinergi antara ormas dan pemerintah hingga lahir Peraturan Daerah Pemberdayaan Ormas tahun 2023. Menariknya, FKSB tidak pernah menerima hibah dari Pemerintah Kota Semarang. Seluruh kegiatan digerakkan melalui kolaborasi dengan OPD dan mitra strategis seperti Kesbangpol, Diskominfo, Bagian Kesra, Disbudpar, Kemenag Kota Semarang, Polrestabes Semarang, BPJS Ketenagakerjaan, Polda Jawa Tengah, perbankan, serta ormas-ormas di Kota Semarang.

Dari sinergi tersebut lahir berbagai program strategis, antara lain Ormas Award, Ormas Expo, Festival Budaya Ormas, FGD, simposium, bakti sosial pengobatan gratis, pelatihan administrasi ormas, hingga pelatihan fundraising. Atas praktik baik ini, Kota Semarang meraih penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri sebagai Pembina Ormas Terbaik se-Indonesia.

Baca Juga:  Tak Terpengaruh Tragedi Kanjuruhan, Piala Dunia U-20 2023 Tetap Digelar di Indonesia

Dalam ranah dakwah komunitas, AM Jumai meraih penghargaan Insan Dai Komunitas Tahun 2026 dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia juga menerima dua penghargaan sekaligus sebagai Dai Komunitas Terbaik dan Lembaga Dakwah Komunitas Terbaik, yang diserahkan pada 29 Januari 2026 saat pembukaan Rakornas LDK Muhammadiyah se-Indonesia, disaksikan Menko Pangan RI, Gubernur Jawa Tengah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Kapolda Jawa Tengah, dan Wakil Wali Kota Semarang.

Menjabat Ketua FKSB Kota Semarang selama dua periode, Jumai merasa pengabdiannya sudah lebih dari cukup. Ia memastikan akan menuntaskan amanah hingga Musyawarah FKSB Kota Semarang pada November 2026 dan menegaskan tidak akan maju kembali. Ia ingin memberi ruang kepada aktivis ormas yang berkeadaban, berakhlak mulia, berpendidikan, serta mampu membawa forum untuk kepentingan publik, bukan panggung pribadi.

Di tengah padatnya jadwal pengajian dan khutbah Jumat di berbagai masjid, termasuk Masjid Balaikota Semarang, Polrestabes, Pomdam IV Diponegoro, dan masjid-masjid lainnya, AM Jumai memegang satu prinsip hidup: hidup adalah ibadah. Fitnah, propaganda, dan upaya mengkerdilkan peran ia hadapi dengan istiqamah. Baginya, risiko menjadi aktivis adalah siap disalahkan, tetapi tidak boleh berhenti berbuat baik.

Dengan fokus pada jamaah, jam’iyyah, dan amal sosial kemasyarakatan, AM Jumai terus menjaga gerbong kebaikan, menggerakkan dakwah, pendidikan, dan persaudaraan demi Kota Semarang yang maju, berkemajuan, dan berwawasan Nusantara.

 

 

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!