Muhammadiyah Menyinari Negeri Jiran: Dakwah dan Pendidikan di Malaysia

Oleh: Dr. AM. Jumai, S.E., M.M. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Semarang

SEMARANG[Berlianmedia] – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Luar Negeri Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi global. Pada tahun 2025, kegiatan ini dilaksanakan di beberapa lokasi di Malaysia, di antaranya Sanggar Belajar Gumut di Hulu Selangor dan Sanggar Belajar Ampang di Selangor.

Tujuan utama program ini bukan hanya melatih mahasiswa agar peka terhadap dinamika sosial lintas budaya, tetapi juga menjadi wujud nyata dakwah pendidikan Muhammadiyah di kancah internasional. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa semangat amar ma’ruf nahi munkar dapat diterapkan melalui jalur pendidikan dan pengabdian.

Sanggar Belajar Gumut merupakan sekolah rakyat nonformal yang diperuntukkan bagi anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI). Lokasinya berada di pedalaman, dikelilingi perkebunan karet dan kelapa sawit, dengan akses jalan berbatu dan fasilitas terbatas. Sanggar ini mendapat pengakuan resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Dua mahasiswa Unimus, Rallef Qorsya dan Afan Arga, menjadi relawan di sana. Mereka mengajar mengaji, membaca, menulis, serta memberikan pelajaran umum dalam kondisi sederhana, bahkan dengan risiko lingkungan yang cukup berat.

Baca Juga:  Ratusan Seniman Soloraya Deklarasi Dukung Ganjar-Mahfud

Sementara itu, Sanggar Belajar Ampang berada di kawasan semi-perkotaan Selangor. Sanggar ini dikelola oleh Faiz Al-Faizin dan Ustadz Rafli, di bawah organisasi Ikatan Masyarakat Serantau (IMSA). Jumlah siswanya sekitar 80 anak, sebagian besar berasal dari keluarga migran tidak resmi. Meski terkendala biaya dan status hukum, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Program keagamaan seperti khotmil Qur’an, yasinan, dan pengajian rutin menjadi bagian penting dari pembinaan karakter anak-anak di sana.

Dari hasil kunjungan lapangan, tampak bahwa kegiatan KKN luar negeri ini berjalan baik dan mendapat sambutan positif dari warga setempat maupun pihak KBRI. Para mahasiswa menunjukkan ketulusan, disiplin, dan semangat pengabdian tinggi, meski harus hidup jauh dari kenyamanan. Pengalaman mereka menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu dilakukan di mimbar, tetapi juga di ruang-ruang belajar yang sederhana.

Baca Juga:  HUT Ke-78 RI, Wonogiri Gelar Karnaval Serentak di 25 Kecamatan

Program ini memberi pelajaran penting tentang makna pendidikan sebagai dakwah kemanusiaan. Di tengah keterbatasan fasilitas dan situasi sosial yang kompleks, mahasiswa mampu menghidupkan nilai-nilai keikhlasan dan tanggung jawab. Sementara bagi dosen pembimbing, kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pengabdian sejati bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi proses menanam nilai dan menumbuhkan harapan.

Ke depan, Unimus diharapkan memperkuat kerja sama dengan KBRI Kuala Lumpur melalui nota kesepahaman formal, menambah jumlah relawan lintas program studi, serta membantu penyediaan fasilitas dasar seperti listrik, alat belajar, dan jaringan komunikasi. Dengan dukungan berkelanjutan dari universitas, pemerintah, dan masyarakat, Sanggar Belajar di Malaysia dapat berkembang menjadi pusat pendidikan komunitas migran yang mandiri dan berdaya.

Kehadiran mahasiswa Muhammadiyah di Malaysia menjadi cermin bahwa dakwah tidak mengenal batas negara. Dari pedalaman Gumut hingga kota Ampang, sinar pendidikan dan nilai Islam berkemajuan terus menyala. Inilah wajah dakwah Muhammadiyah di era global dakwah yang mencerahkan, mendidik, dan menebar rahmat bagi semesta.  “Menebar Rahmat bagi Semesta, Mencerahkan dan Memajukan Umat.”

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!